Penerimaan CPNS, antara ikut ataupun tidak

Dilema bagi seseorang yang lulus perguruan tinggi di Indonesia ketika dihadapkan pada kenyataan masyarakat akan pekerjaan. Tidak sedikitpun dari lulusan sarjana memanfaatkan kuliah hanya untuk mendapatkan pekerjaan, bukan pada mendapatkan ilmu. Mungkin hanya beberapa yang ingin mendapatkan ilmu, karena sebagian berpendapat bahwa pandangan tersebut adalah pandangan skeptis yang dapat dibantah oleh pandangan masyarakat secara umum saat ini yang mengisyaratkan agar tercapainya rumus kehidupan yang abadi, yakin kuliah, kerja dan nikah.

Continue reading

Bangun Indonesia

Ketika masalah keadilan menjadi hal sensitif yang dijadikan isu oleh media-media di Indonesia. Ibarat seorang model, hukum selalu menjadi sorotan nomor satu di republik yang mengatasnamakan hukum sebagai landasan dalam berpijak dalam setiap tindakan baik ekonomi, politik, keamanan, dan lain sebagainya.

Saya berharap hukum tidak hanya sekedar menjadi sorotan saja akan tetapi haruslah bisa menjawab problema tersebut agar kelak hukum Indonesia menjadi lebih baik. Tidak sedikit juga orang yang paham kelemahan hukum negeri ini memainkan peran untuk mengobok-obok kondisi bangsa. Hal ini mungkin saja tidak disadari oleh beberapa masyarakat yang tidak melek hukum. Tetapi bagi yang sudah mendalami hal tersebut tentulah mengetahui hal itu. Maka tentunya kita kembalikan kepada agama bahwa menyerahkan sesuatu berdasarkan keahlian. Ketika kewenangan legislasi dilaksanakan oleh DPR yang tentu saja tidak semuanya paham mengenai konsep negara Indonesia dan negara hukum maka beberapa peraturan perundang-undangan banyak yang ditolak oleh Mahkamah Konstitusi.
Saya khawatir mengenai kondisi hukum di Indonesia ini, khawatir bukan karena karakteristiknya yang jelek, akan tetapi khawatir dengan wajah-wajah aparat penegak hukum di negeri ini, baik itu jaksa, kepolisian, hakim, dan lain sebagainya. Pola-pola rekrutmen yang masih salah dalam hal memilih jabatan sebagai jaksa agung dan hakim agung memberikan adanya tidak berkembangnya law enforcement di negara ini. Begitu juga mengenai ketidak adilan yang dikatakan hanya tumpul ke atas dan tajam ke bawah memberikan stigma negatif terhadap hukum di Indonesia.

Berjuang atau tidak sama sekali adalah jawaban yang pantas bagi pemerhati hukum di negeri ini. Karena bagaimanapun memperjuangkan hukum untuk tegak adalah hal yang sungguh tidak mungkin tapi keyakinan itu selalu ada. Singapura yang negara kecil saja bisa merubah budaya hukum sehingga maju sampai saat ini, begitu juga malaysia yang begitu mengedepankan hukum Islampun bisa jauh lebih maju daripada Indonesia.
Kekuatan membangun hukum adalah dari bawah, dari gerakan-gerakan kecil. Ingatlah bahwa membangun hukum ibarat membangun rumah. Perlahan, sedikit demi sedikit dan tentunya mempunyai bangunan yang kokoh.

Untuk itulah, ayo bangun hukum Indonesia menjadi lebih baik. Bagi yang butuh bantuan hukum, saya siap membantu terutama masyarakat yang tidak mampu. Tidak ada kata menyerah untuk maju demi Indonesia.

Bagi yang ingin bertanya dan konsultasi masalah hukum dapat menghubungi saya, baik di facebook, email, Twitter, ataupun WhatsApp. Gratis.

@facebook : Fahriza Yusro
@twitter : @fahrizayusro90
Email : fahriza.yh@gmail.com
WhatsApp : 085729866187
Bbm : 7d29301f

Posted from WordPress for Android

Telepon Dari Jepang

Beberapa waktu lalu aku sempat kaget ketika mendapati telponku bergetar, dan sontak aja nomor yang tertera pada telpon adalah nomor dengan  021000007, aku sempat bingung untuk mengangkat atau membiarkannya saja. Tetapi saat itu aku mengurungkan niat untuk menerima telpon tersebut. Dalam hati kecilku kalau memang penting pasti akan menelpon kembali.

Continue reading

Demokrasi Untuk Media

Ketika mendapatkan mata kuliah hukum konstitusi yang diajarkan oleh Prof Denny Indrayana, saya menjadi lebih yakin teori yang dibangun oleh beliau. Saat itu beliau dengan terang dan jelas telah mengajarkan hal tersebut tanpa harus disaring-saring seperti yang terdapat di dalam media elektronik ataupun media cetak. Ketika banyak yang menyalahkan SBY sebagai presiden pada tahun lalu karena dianggap lamban, tidak tegas, atau bahkan yang lebih buruk daripada itu, Prof. denny yang selalu berada di samping beliau dan mengetahui sifat dan sikap asli dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahwa kenyataannya bertolak belakang dengan apa yang sudah dicitrakan oleh media massa.

Continue reading

23 Tahun Melangkah… Mengingat Jejak Kaki yang Diinjak.

Mengawali perjalanan panjang saya dengan cerita yang hingga saat ini tidak dapat dilupakan, perjalanan yang senantiasa menjadikan pengalaman yang amat berharga bagi saya saat ini. Yah, saat SMA tepatnya. Saat-saat manis yang bagi semua orang bersemi benih-benih cinta di dalam dada, akan tetapi tidak bagiku. Sejak masuk kelas 1 SMA (kelas X) aku sudah dijajali dengan berbagai aktivitas yang tentu saja menjadikan aku menjadi lebih dewasa dalam berfikir dan bertindak, tidak lagi dengan aktifitas ngeband, aktifitas nongkrong ataupun bermain PS (Play Station) yang aku lakukan sewaktu SMP.

Aku sudah diajarkan bagaimana cara berbagi dengan sesama, mengajarkan ilmu-ilmu yang telah didapatkan serta berwirausaha. Sekolahku tergolong lumayan maju untuk se-kabupaten. Tapi untuk tingkatan provinsi mungkin bisa masuk 5 atau 10 besar.

Sebenarnya saat itu aku bermaksud hijrah untuk melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Mataram, tapi saat itu ibu tidak memberikan izin. Entah apa pertimbangannya, tapi sedikit kecewa. Tetap pada Praya, tepatnya SMAN 1 Praya.

Sebelum aku masuk ke SMAN 1 Praya, ada guru asal SMAN 1 Praya yang datang ke rumah menanyakan tentang aku, namanya Bu Yani, beliau tetanggaku tetapi beda RT. Biasa seperti kebanyakan ibu-ibu sering mengobrol. Yah, saat itu beliau mengobrol dengan ibuku, aku sedikit menangkap pembicaraannya samar dari bilik kamar.

Tepat hari berikutnya aku tekadkan untuk masuk SMAN 1 Praya, walaupun setengah hati untuk memasukinya karena aku yakin untuk bisa maju harus hijrah dari kota ini, harus ada yang dikorbankan, harus keluar dari zona nyaman, tidak stagnan begini saja. Tetapi apa mau dikata, ridho orang tua adalah segalanya walaupun itu berat untuk menjalaninya.

 

——————————————————————————————–

Awal Berorganisasi

Masuk SMAN 1 Praya, kegiatan MOS, kebetulan yang menjadi kakak OSIS di kelasku adalah mbakku sendiri. Iya, sejak SMP mbakku selalu aktif kegiatan-kegiatan organisasi berbanding terbalik dengan aku, lebih seneng bermain bola ataupun hal-hal lainnya. Pernah dulu sewaktu SMP kelas 1 mewakili kampung untuk turnamen sepakbola kabupaten, dengan bangga menggunakan kostum “fortuna”, walaupun kalah tetapi tetap menjadi kenikmatan tersendiri dalam hal mewakili kampung yang berpenduduk sekitar 400 KK.

Ospek pun berakhir saatnya mulai sekolah dan memilih organisasi yang akan digeluti. Mbakku sedari awal sudah membisikkan ikut remaja mushalla saja, tapi terserah kamu. Yah, remaja mushalla, dari nama sudah bisa ditebak ini kegiatannya apa saja. Tapi tidak apa-apa bergelut di bidang ini, toh tidak merugikan juga, yang penting bermanfaat.

Masuk Remaja Mushalla, pertemuan awal banyak sekali yang mendaftar, yang cowok saja hampir 60 orang, belum lagi yang cewek bisa dua kali lipat yang cowok.

Pertama kali mengikuti remaja mushalla aku kenal Hamdi dan Suhaimi, dia yang mengarahkan kami siswa baru, hingga kami diperkenalkan oleh kak Prasetyo. Beliau alumni SMAN 1 Praya, setelah selesai SMA beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Madani, Gontor. Memang dia berbeda dengan kebanyakan orang yang melanjutkan pendidikan kuliah. Dia orang yang cerdas, pandai bergaul, dan pintar bermain sepak bola.

Saat itu teman-temanku sekelompok ada Minto, Izi, Sandy, Dion, Musyaffa, Dadang, Iwan, dan Syirul. Awal yang hangat, saling bercerita pengalaman pribadi yang sulit untuk dilupakan, menyusun program mingguan hingga bulanan. Ibarat seorang militer kak Yas adalah komandan kami, beliau yang mengarahkan kami saat itu. Kami banyak belajar dari hal-hal kecil hingga berguru kepada ahlinya.

Kelas X, adalah awal untuk bermain-main bagi kebanyakan teman-teman SMA, tidak untuk aku. Saat kelas X aku sudah dijejali kegiatan-kegiatan REMUS, mengajar, hingga berjualan. Kegiatan Remus yang tidak pernah terlupakan hingga saat ini adalah Tadabur Alam, pertama kalinya aku menjadi ketua panitia, entah atas dasar apa mereka memilih aku menjadi ketua panitia, tetapi ya sudah, aku jalani dengan legowo saja.

Kegiatan pendekatan dengan alam saat itu memilih lokasi air terjun di daerah Lombok Timur, Air terjun Jeruk Manis, berada di sekitar wilayah taman nasional gunung rinjani.

Saat survei adalah saat dimana air terjun itu berkesan. Kami berdua yang melakukan survei, aku dan Rapii (Mantan Ketua Remus 2004-2005). Kami saat itu benar-benar tidak tahu menahu mengenai jalan dan medan yang akan dilalui. Tak ayal perjalanan kami mencapai tiga jam perjalanan, dengan modal bertanya sana sini. Belum lagi perjalanan setapak dari gerbang taman nasional gunung rinjani harus melewati tiga pos atau sejauh 1,5 km untuk bisa melihat air terjun tersebut. Perjalanan setengah jam kami lalui hingga kami berdua berteriak sekeras-kerasnya. Mungkin sebuah pencapaian tertinggi dari sebuah usaha, begitu indah ujarku dalam hati. Kakiku beradu dengan derasnya aliran air, wajah keceriaan menyinari kami berdua hingga akhirnya kami memberikan rancangan-rancangan kegiatan yang akan dilakukan pada kegiatan tadabur alam.

Tidak terasa sudah ashar, tidak terdengar adzan, benar-benar hutan. Saat itu juga kami berdua mengambil air wudhu dari sungai yang berada di kawasan air terjun. Tidak membawa perlengkapan yang banyak, apalagi kompas. Mengandalkan feeling saja. dan kami berdua shalat berjamaah di atas batu yang kebetulan batu tersebut datar permukaannya. Baru aku tahu kalau kami berdua menghadap ke timur sewaktu shalat. Diam-diam kami tertawa kecil ketika mengetahui kesalahan itu.

Berawal dari ketua panitia menjadi aktif organisasi lainnya. Berorganisasi intinya adalah saling memiliki, tidak penting bertemu terus, yang terpenting bisa mendoakan teman-teman agar sehat dan diberikan kemudahan-kemudahan dalam hidup, membantu dan bermanfaat bagi orang lain adalah hal yang terbaik walaupun menjadi pelayan sekalipun, karena hakekat organisasi tetap pada memberikan pelayanan.

 

Awal Mengajar

Mungkin kebanyakan dari kita sadar bahwa ilmu yang didapatkan suatu saat akan dikemanakan, tidak mungkin ilmu tersebut akan dipergunakan sendiri, tidak ada kepuaasan tersendiri karena begitu-begitu saja, DATAR. Aku menyadari hal tersebut, dan kebetulan doaku mungkin didengar oleh Allah. Beberapa hari setelah itu, guruku, Bu Yani memberikan nasehat tentang ilmu yang bermanfaat. Aku sadari bahwa nasehat itu sering diutarakan ketika pelajaran SMP dulu, tapi susah untuk implementasikannya.

“begini fahriza, Ibu ada punya kelas mengaji di rumah, mungkin fahriza bisa menjadi guru. Kebetulan Agis dan Sugeng sudah menjadi guru, tetapi dia mengajarkan matematika dan bahasa inggris.” ujar beliau

“Iya, bu. Saya pikir-pikir terlebih dahulu nggih, nanti saya kabarkan kalau bisa ya bu” jawabanku.

sepulang sekolah, aku beritahu kepada orang tua perihal tersebut, ayahku memulai dengan pandangannya. “bapak dahulu sewaktu kuliah juga mengajar ngaji za, dengan uang ngajar bapak bisa hidup di yogyakarta, mengajarkan orang tua, waria, hingga anak kecil bapak ajarkan.” ujar ayahku

Memang, ayahku seorang yang gigih. Dahulu ayah suka berdagang kaki lima ikut dengan suk syahrani (Suk dalam bahasa banjar, artinya paman atau bibi). Dari hasil berdagang beliau bisa membeli sepeda jengki. Sewaktu sekolah PGA sudah bisa berdagang gumamku. Memang kalau ada tekad pasti ada jalan.

Tapi sayang, ketika masuk kuliah, ayahku terpaksa menjual sepeda jengki kesayangannya untuk bisa masuk universitas yang diinginkan, yah UIN Sunan Kalijaga, yogyakarta jurusan Syariah. Cerita yang sungguh bisa membuat hati kecilku menangis.

“kenapa dijual?”, ujarku saat kecil dulu.

“bapak pingin masuk ke Mahkamah Syariah, sekarang disebut Pengadilan Tinggi, setiap kali bapak melewati Mahakamah Syariah, setiap itu juga terbesit untuk bisa menjadi penegak keadilan”, ujarnya sambil tersenyum. Memang terdapat wajah yang tenang sekaligus bangga kalau saat ini cita-cita itu hampir saja tercapai.

Memberikan manfaat yang terbaik kepada orang lain itu tidak bisa dihitung kenikmatannya, hanya mampu dirasakan saja tapi tidak bisa diutarakan, karena hakekatnya kenikmatan sama dengan ketenangan.

Ya, hari berikutnya aku putuskan untuk mengajar mengaji. Tidak penting penghasilan setiap bulannya, yang terpenting bisa memberikan manfaat bagi orang lain sembari tetap belajar untuk memperdalam ilmu agama.

Alhamdulillah, aku mendapatkan buku pertama dari hasil jerih payahku mengajar tanpa meminta kepada orang tua. Buku matematika kelas X semester 2. Sejak saat itu aku berazam untuk selalu berusaha mengajarkan ilmu yang aku dapatkan walaupun sekecil apapun.

 

Awal Berwirausaha

Darah dagang sudah ada mengalir pada ayahku, karena ayahku suka menjajakan dagangan sejak masih kecil. Dagangan roti yang senantiasa dijajakan ayah selalu menghiasi hari-harinya. Nenekku adalah orang asli banjarmasin begitu juga kakek, seperti kebanyakan orang-orang terdahulu, wanita harus mempunyai keterampilan baik itu memasak, menjahit, ataupun bermusik. Nenekku mahir membuat kue, begitu juga masakan-masakan banjarmasin sudah di luar kepala, tanpa takaran beliau bisa membuat jajanan yang enak. Lain halnya dengan kakekku, beliau adalah seorang pedagang ulung, pintar dalam menghitung laba dan kerugian, ayahku pernah bercerita kalau kakek pernah dinobatkan sebagai akuntan terbaik di mataram, catatan-catatan belanja tercatat rapi. Nama tokonya “Indonesia”, tepat di jantung perbelanjaan mataram, yakni Cakranegara. Toko yang tidak pernah mengganti papan nama dengan vinil, masih murni menggunakan papan.

“Berdagang,” kata itu yang muncul dalam benakku.

Seumuran kelas X sudah berfikir tentang berdagang. Ya ampun, begitu tamakkah diriku.

Tidak ada salahnya untuk mencoba, toh juga berdagang juga tergantung niatnya. Saat itu aku berdagang berniat untuk bisa membeli buku dari hasil daganganku. Bermula dari coba-coba hingga promosi kepada teman-teman organisasi. Disambut baik, dan beberapa orang sudah ada yang memesan buku.

Beberapa bulan jualanku lancar, setiap ke sekolah aku selalu membawa buku-buku yang mereka inginkan, tidak mengambil keuntungan yang banyak, karena aku tahu seumuranku masih sangat mengandalkan uang jajan dari orang tua, keuntungan secukupnya saja yang penting lancar dan aku dapat memenuhi buku-buku sendiri tanpa harus meminta pada ayah.

Namun, lama kelamaan mulai banyak yang memesan, dan satu hal yang tidak bisa aku hindari adalah sebagai pedagang, aku orangnya tidak bisa menagih. yah, beberapa ada yang menyicil untuk membayar hutang, ada juga yang tidak membayar, padahal sudah ditagih dua kali.Ya sudah, hitung-hitung memberikan manfaat kepada orang lain.

Tak bisa dihindarkan lagi, selang beberapa bulan usahaku untuk berjualan kemudian tidak bisa lagi dilaksanakan karena modal yang ada tidak mencukupi, terkendala oleh cicilan yang mungkin entah berapa kali dibayarkan. Ibarat sebuah usaha kecil-kecilan kalau modal dasar tidak bisa kembali cepat, lambat laun usaha akan gulung tikar.

Pengalaman berdagang yang mungkin tidak bisa dilupakan, tapi suatu saat aku akan berdagang lagi. Mungkin sifat tidak enakan terhadap teman pada saat berbisnis adalah hal yang harus dihilangkan karena itu salah satu penghalang untuk sukses dalam berdagang.

 

 

Cerita awal SMA yang mewarnai kehidupanku, Organisasi, Mengajar, dan Berdagang. Kemungkinan beberapa orang telah melakukannya tetapi melakukan satu waktu bersamaan dengan kesibukan sekolah menjadikan pengalaman tersendiri yang tak pernah terlupakan hingga usia 23 tahun ini.

Salam Sukses!

 

Fahriza Yusro Hadiyaksa

 

Yogyakarta, 24 Maret 2014, 14:41 WIB