LAPORAN PRAKTIKUM TEKHNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan Peternakan di Indonesia di Nusa Tenggara Barat kian menunjukkan peningkatannya, terbukti dengan adanya program Pemerintah NTB BSS (Bumi Sejuta Sapi) sebagai upaya pemerintah untuk menjadikan NTB sebagai lumbung ternak, tidak hanya kaya akan komoditas sapi, tetapi juga kaya dengan komoditas ternak lainnya, program ini diharapkan bisa berhasil dengan melihat potensi NTB yang memiliki lahan pertanian dan peternakan yang masih luas.
Sebagai salah satu upaya mendorong majunya peternakan, Inseminasi Buatan atau kawin suntik telah diakui sebagai suatu cara atau sarana yang sangat kuat untuk menyebarkan jasa geneti di dalam suatu populasi ternak.
Problemantika umum usaha peternakan di negara-negara tropis seperti di Indonesia adalah faktor suhu lingkungan dan kelembapan udara yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak. Lingkungan yang relatif panas menyebabkan sebagian ternak akan enggan makan sehingga secara kuantitas asupan zat makanan nutrient yang masuk dalam tubuh juga kurang. Padahal, asupan ini berperan penting untuk menckupi kebutuhan pokok, perrkembangan tubuh dan untuk kebutuhan berproduksi.

Faktor kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan karena hampir 2/3 biaya produksi berasal dari pakan. Oleh karena itu, perhatian terhadap asupan zat makanan ke ternak akan sangat menentukan keberhasilan budidaya Peternakan.

B. Tujuan
Tujuan diadakan praktikum BULL bagi mahasiswa adalah:
1. Mengunkapkan pengetahuan dan wawasan dan pengalaman para mahasiswa
khususnya DIII Kosentrasi Kesehatan Hewan dalam pengolahan pakan di lapangan.
2. Untuk mengetahui kegiatan yang di laksanakan di kandang BULL.
3. Sebagai acuan dalam penyusunan laporan.
C. Manfaat

Adapun kegunaan dari praktikum ini adalah Sebagai sarana menimba ilmu pengetahuan dan skill, sehingga menciptakan mahasiswa yang terampil dan profesional serta mampu mengaplikasikan dan menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Inseminasi Buatan
Usaha manusia memasukkan sperrma ke dalam saluran reproduksi betina dengan menggnakan peralatan khusus dinamakan inseminasi buatan. Cara ini untuk perrtama kali menarik minat ilmuwan untuk diterapkan pada mamalia pada tahun 1780 ketika Lazzaro Spallanzani seorang ahli ilmu faal Italia melakukannya pada anjing. Orang-orang Rusia mulai mempraktekkannya pada skala besar pada tahun 1900 dan sejak itu cara ini menyebar ke banyak negara di dunia. Meski hanya 5 % sapi daging di Amerika Serikat yang diinseminasi secara buatan, pada sapi perah angka itu mencapai 100 %. Masa depan cara inseminasi buatan ini pada sapi daging, tampaknya cukup cerah.

B. Jumlah Sapi
– Sapi Bali : 5 ekor
– Sapi Simmental : 3 ekor
– Sapi Brangus : 3 ekor
– Sapi Hisar : 2 ekor

C. Sifat Masing-Masing Sapi

a). Sapi Bali
Sapi Bali merupakan tipe Pekerja dan pedaging yang ciri-cirinya adalah bertubuh besar dan kuat dengan perototan yang kuat pula, gerakan anggota tubuhnya bebas, sifatnya tenang dan patuh, serta kakinya panjang dan kuat. Habitat hidupnya ialah di lingkungan tropis, sehingga ia dikenal sebagai sapi yang tahan dengan panas. Ia memiliki sifat jinak. Warna bulu sapi jantan dewasa hitam, dan sapi betina merah bata, pantat dan kaki dari lutut ke bawah berwarna putih, pada punggungnya ada garis hitam dari depan ke belakang.
Sapi Bali terkenal sangat subur, masa berahinya relatif lebih panjang dibandingkan dengan jenis sapi lainnya, dapat memanfaatkan hijauan berrmutu rendah, dan mudah pemeliharaannya.

b). Sapi Simmental
Ini adalah jenis sapi dwiguna (pedaging, perah dan pekerja). Pertumbuhan pertumbuhan ototny sangat baik dan tidak banyak terdapat penimbunan lemak di bawah kulit. Wana bulunya krem kecoklatan hingga sedikit merah dan warna bulu pada muka putih. Demikian pula dari lutut ke bawah dan pada ujung ekor warna bulunya putih dan tanduknya tidak begitu besar.

c). Sapi Brangus
Umumnya ia berwarna hitam atau merah, tidak bertanduk dan bulunya agak halus. Kupingnya tidak begitu besar dan mempunyai gelambir. Pada sapi jantan terrliihat adanya punuk yang tidak beggitu besar, yang merupakan ciri khas adanya darah Brahman. Pertumbuhan sapi ini cepat, mutu dagingnya baik dan persentasi karkasnya tinggi. Sapi ini merupakan campuran dari keturunan sapi Brahman dan Angus, yang merupakan tipe pedaging.

D. Pemanfaatan Nutrien Pakan
Pada umumnya Sapi memerlukan 6 macam nutrien esensial antara lain protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Meski keenamnyanya diperlukan, jumlah kebutuhannya bervariasi terrgantung tingkst pemanfaatan bahan pakan itu oleh hewan yang berrsangkutan. Karrena keempat jenis sapi di atas untuk fungsi tubuh yang spesifik yaitu untuk reproduksi. Maka nutrien utama secara berurutan yang dibutuhkan adalah Protein, Energi dan Mineral. Nutrien lain juga dibutuhkan tetapi dalam jumlah kecil. Air berrsifat esensial untuk semua fungsi tersebut.

E. Tata Laksana Pakan
Pengelolaan pakan akan sangat menentukan tingkat keberhasilan pemeliharaan sapi. Karena itu, cara-cara pengelolaannya harus di pahami. Karena tujuan pemeliharaan sapi diatas adalah BULL (pejantan untuk menghasilkan sperma). Maka pemberian pakannyapun agak berbeda dengan sapi di kandang Breeding, dan Perah.
Pemberian pakan untuk BULL tidak boleh berlebihan yang akan membuat sapi kelebihan berat badan. Sehingga, akan mempengaruhi kualitas produktifitas sperma sapi.
Ketersediaan pakan pengembalaan pada pemeliharaan ternak sapi diperrlukan sekali sebagai sumber pakan hijauan. Seperti di kandang BULL, sistem pemberian pakannya di lakukan dengan pemotongan rumput di padang pengembalaan, kemudian diberikan kepada ternak api yang bersangkutan di dalam kandang. Pemberian pakan seperti ini disebut dengan istilah cut and carry.
Makanan yang di berikan di BULL dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yakni makanan hijauan, makanan konsentrat.

a. Makanan hijauan
Makanan hijauan/makanan kasar ialah semua bahan makanan yang berrasal dari tumbuh-tumbuhan atau tetanaman dalam bentuk daun-daunnan, ranting, bunga, dan batang.
Bahan ini pada umumnya tebal, besar dan kasar yang kandungan energinya relatif rendah, tetapi merupakan sumber vitamin dan mineral yang bagus dan nilai pelatabilitasnya pun tinggi. Bahan ini adar airnya 70% – 80%, sedangkan sisanya merupakan bahan kering.
Termasuk kelompok hijauan yang diberikan pada sapi BULL adalah bangsa rumput. Yang diberrikan dalam dua macam bentuk, yakni dalam keadaan segar dan kering. Termasuk hijauan segar yaitu rumput lapangan, rumput pertanian, rumput penggembalaan dan silage. Rumput pertanian yang biasa diberikan adalah jenis rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan daun jagung.
Cara pemberian:
Sama seperti di kandang-kandang lain yaitu: setelah di ambil dari padang pengembalaan, kemudian di potong dengan mesin pencacah dan langsung di berikan kepada ternak. Selain hijauan, di berikan pula jenis silase yaitu rumput/hiajuan yang diawetkan dengan cara diperam dalam keadaan tampa oksigen(anaerob).

B. Konsentrat
Konsetrat selain mengandung kadar energi dan protein tinggi, dan serat kasarnya rendah. Konsetrat yang diberikan adalah berupa pelet( butiran), yang berfungsi untuk memperkaya nilai gizi pada bahan makanan yang nilainya rendah, misalnya yang berasal dari jerami dan lain sebagainya. Pemberian di berrikan sebanyak 2x dalam satu minggu.

Selain pemberian hijauan dan konsentrat, tidak lupa di berikan minuman jamu sebagai vitamin sebanyak 2x dalam sebulan. Bahan-bahannya ; kuning telur, madu, dan perasan air kunyit yang di campur. Cara pemberiannya tidak langsung dicampur di tempat air minum akan tetapi dengan cara memakai botol air minum. Fungsi minuman ini adalah agar kualitas sperma yang di hasilkan bermutu baik.

F. Penandaan Telinga Sapi dengan Ear Tag
Kegunaannya adalah sebagai ciri individual ternak sapi. Penandaan ini dilakukan dengan hati-hati, ditusukkan pada daerah telinga yang tidak dilalui saluran/pembuluh darah besar. Ear Tag biasanya di buat daari plastik atau logam aluminium. Kegunaannya untuk mencegah terjadinya kesalahan atau tertukarnya nomor penandaan antara sapi yang satu dengan yang lain. Kerugiannya, ear tag terrsebut dapat hilang/jatuh serta mempunyai peluang berrkarat apabila terbuat dari logam.
G. Pemotongan Kuku
Kuku yang panjang, jika tidak di potong akan menyebabkan sapi ketegangan otot kaki dan akan membuat sapi lemah, jalannya pincang, serta kaki menjadi sakit. Dampak selanjutnya, akan terjadi ganguan terhadap pertumbuhan sapi terrsebut.
Kuku sapi dipotong dengan alat pemotong melingkar sekeliling kuku dari belahan kuku depan mengarah ke belakang, dan jangan sampai melewati garis putih kuku.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Perhatian terhadap asupan zat makanan ke ternak akan sangat menentukan
keberhasilan budidaya peternakan.
2. Mahasiswa mendapatkan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan dalam
Manajemen Pakan

B. Saran

1.Untuk mendapatkan ilmu dilapangan mahasiswa praktikum harus serius dan antusias dalam mengikuuti setiap kegiatan yang dilakukan di tempat praktikum sehingga ilmu yang di dapatkan bisa diterapkan di masyarakat
2. Sebagai mahasiswa sebelum berangkat praktikum, harus menyiapkan bekal ilmu, agar tidak kaku dalam bertanya.

DAFTAR PUSTAKA

Blakely, James & David H.Bade. 1985. Ilmu Peternakan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Aak. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta : Kanisius.

LAPORAN PRAKTIKUM
DI KANDANG SAPI PERAH

Disusun oleh:

ROSDIANA
BOD.OO9.027
KESEHATAN HEWAN

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penyusun panjatkan kehadiran Allah SWT, karena atas segala rahmat serta karunianya Penyusun dapat menyelesaikan kegiatan praktikum serta penyusunan laporan praktikum. Sebagai salah satu syarat untuk dalam penilaian mata kuliah Tekhnologi Pengolahan Limbah program Studi D3 Kesehatan Hewan, di Fakultas Peternakan Universitas Mataram.
Dalam penyusunan laporan ini penyusun mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pembimbing Ir. Uhud Abdullah. MP yang telah membimbng jalannya praktikum.
Penyusun menyadari bahwa dalam laporan ini masih terdapat kekurangan. Oleh karenanya kami mngharapkan kritik dan saran yang membangun unutuk perbaikannya. Akhir kata semoga laporan ini bermanfaat..

Mataram, Juni 2011
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sapi perah merupakan salah satu penghasil pprotein hewani yang sangat penting. Air susu sebagai sumber gizi berupa protein hewani sangat besar manfaatnya bagi bayi, bagi mereka yang sedang dalam proses tumbuh, bagi orang dewasa, dan bahkan bagi yang berusia lanjut. Susu memiliki kandungan protein cukup tinggi, sehingga sangat menunjang petumbuhan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh.
Ditinjau dari segi ekosistem dan ekonomis, dapi perah berperan sangat penting sebagai pengumpul bahan-bahan yang tak bermanfaat sama sekali bagi manusia seperti rumput, limbah dan hasil ikutan lainnya dari produk petanian di sekitar. Bahan-bahan yang tidak berguna bagi manusia itu menjadi bahan makanan bagi sapi sehingga dapat memproduksi susu, daging dan hasil ikutan lainnya yang berguna bagi manusia.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini telah dapat menghasilkan produk susu olahan berupa susu “Skim” yang cocok untuk disajikan bagi bayi. Sebab, komponen yang kurang menguntungkan bagi sang bayi, seperti kandungan lemaknya yang tinggi, telah dipisahkan atau di turunkan menjadi 0,1% sehingg tidak akan mengakibatkan diare bagi para bayi. Dengan produk susu ini dapat menolong para ibu yang yang karena alasan tertentu tidak dapat memberikan ASI pada waktunya. Susu skim dapat diberikan untuk sementara sebagai pengganti ASI.
Produk sapi perah berupa susu dan hasil olahan lainnya memilki peranan penting bagi generasi muda, termasuk balitanya cukup vital. Peningkatan dan pertambahan permintaan produk susu yang tidak diimbangi dengan penambahan populasi sapi, tentu saja akan mengakibatkan kebutuhan akan susu tidak dapat terpenuhi. Untuk memenuhi poduk susu dengan penambahan populasi ternak sapi peah, prosesnya tidaklah gampang. Maka masih perlu mendatangkan produksi susu olahan yang biasanya berupa susu bubuk dari luar negeri seperti dari Australia dan New Zealand. Hal ini membuktikan bahwa pengembangan usaha ternak sapi perah sebenarnya masih memiliki peluang yang cukup bagus bagi para petani pe ternak. Dengan kata lain, prospek usaha ternak sapi perah masih sangat cerah.
Pengembangan usaha sapi perah dan peningkatan produksi susu memerlukan dorongan baik dari pihak pemerintah ataupun swasta seperti industri-industri persusuan dan sarana-sarana lain yang diperlukan.
Pemerintah dalam usaha pengembangan susu mempunyai andil besar dalam hal pengadaan bibit unggul, khususnya pada peternakan rakyat, pemerintah telah mengupayakan bibit unggul dan mani beku di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Banyumulek ini yang kemudian dijual.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam hal
pemerahan dan hal-hal yang menyangkut sapi perah.
2. Menumbuhkan rasa keberanian dan percaya diri untuk dapat lansung megaplikasikan
ilmu dilapangan.
3. Sebagai acuan dalam penyusunan laporan.

C. Manfaat
Sebagai sarana menimba ilmu pengetahuan dan skill, seghingga menciptakan mahasiswa yang terampil dan profesional serta mampu mengaplikasikan dan menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan bermasyarakat

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Ternak Perah
1. Mengenal Sapi Friesian Holstein
Sapi ini juga dikenal dengan nama Fries Holland (FH). Di Indonesia populasi bagsa sapi FH ini yang terbesar di antara bangsa-bansa sapi perah yang lain.
Di Indonesia, kecuali menggunakan FH murni sebagai sapi perah khususnya di Jawa Timur, banyak diternakkan pula sapi Grati, yakni hasil persilangan antara Friesian Holstein dan sapi lokal Onggole.
• Asal Sapi
Bangsa sapi ini berasal dari negara Belanda.
• Tanda-tandanya
– Warna belang hitam putih
– Pada dahinya terdapat warna putih berbentuk segitiga.
– Dada, perut bawah, kaki, dan ekor berwarna putih
– Tanduk kecil-pendek, menjurus ke depan

• Sifat-sifat sapi
– Tenang, jinak sehinga mudah dikuasai
– Sapi tidak tahan panas, namun mudah beradaptasi
– Lambat menjadi dewasa
– Produksi susu: 4500 – 5500 liter per satu mas laktasi.

• Jumlah Sapi yang dipelihara
Jumlah sapi : 53 ekor
– Jantan : 5 ekor
– Betina : 41 ekor
– Pedet : 7 ekor

• Berat badan sapi
Berat badan sapi jantan mencapai 1000 kg, sapi betina 650 kg.

• Umur
Umur jantan dan betina dewasa ialah rata-rata 8 tahun (tahun 2002 didatangkan).

1. Pemerahan
a. Syarat-syarat Pemerahan
Semua sapi yang akan diperah harus diperiksa kemungkinan adanya penyakit menular yang berbahaya bagi konsumen. Sedangkan Mastitis membahayakan konsumen krena toxinnya yang terkandung di dalam air susu yang terinfeksi. Oleh karena tiu, air susu ri sapi yang menderita tidk boleh konsumsi.
b. Kesehatan Petugas
Setiap petugas pemerah taupun yang akan berhbungan dengan proses pengolahan susu harus dalam kondisi sehat dan bersih. Oleh karena itu, emua petugas yang akan terjun di lapangan pemerahan ataupun pengolahan hasil susu perlu:
– Mencuci tangan dengan deterjen atau air sabun yang hangat hingga bersih. Kemudian tangan dikeringkan dengan kainlap.
– Kuku-kuku tangan yang panjang harus di potong, sehingga tangan menjadi bersih dan tidak melukai putting sapi.
c. Kebersihan tempat dan pealatan yang akan dipakai
Ini akan sangat mempengaruhi kebersihan dan kesehatan air susu. Tempat dan peralatan yang kotor dan berbau busuk akan mencemari air susu sehingga mempercepat proses pembusukan, air susu menjadi asam atau rusak
d. Kebersihan sapi
Sapi yang akan diperah juga harus dalam keadan bersih. Tempat dan peralatan yang bersih akan percuma kalau sapi itu sendiri kotor.Semua kotoran yang melekat pada tubuh sapi akan mengotori hasil susu. Air susu yang tercemar akan mudah rusak. Hanya sapi-sapi yang bersihlah yang akan menghasilkan air susu yang sehat. Itulah sebabnya, semua sapi yang akan diperah harus di mandikan terlebih dahulu, paling tidak bagian-bagian tubuh tertentu seperti pada lipatan paha, ambing, dan putting.
e. Pemerahan Dilakukan dalam Waktu Tertentu
Walaupun sapi bisa diperah lebih dari dua kali sehari setiap sat, namum pemerahan yang baik adalah ada waktu pemerahan secara teratur, sehingga tidak menimbulkan stress pada sapi diperah.
Sapi dikandang Banyumulek diperah satu kali sehari,yaitu pada jam 07.00 wita, maka jadwal tersebut harus dipertahankan. Dengan demikian spi yang bersangkutan akhirnya memiliki kebiasaan kapan ia harus dimandikan, kapan ia harus makan dan kapan pla ia harus siap diperah.

2. Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam pemerahan
Persiapan yang diperhatikan oleh para petugas antara lain adalah menenangkan sapi angakan diperah, membersihkan kandang, membersihkan bagian tubuh bagi sapi yang akan diperah, mengikat sapi, pencucian tangan petugas dan upaya melicinkan putting.

a. Menenangkan Sapi
Dalam rangka pemerahan, langkah pertama yang harus diperhatikan adalah usaha menenangkan sapi yang akan diperah supaya proses pemerahan dapat dilakukan dengan lancar. Usaha untukmenenanga sapi pada umumnya ditempuh dengan cara:
– Membeikan makanan penguat terlebih dahulu bagi sapi-sapi yang akan diperah.
– Petugas mengadakan pendekatan dengan cara memegang-megang bagian tubuh sapi.
b. Membersihkan Kandang dan Bagian Tubuh Sapi
Usaha membersihkan kandang dan bagian tubuh sapi berkaitan erat dengan kebersihan dan kesehatan hasil susu yang akan dipasarkan kepada para konsumen. Usaha membersihkan kandang dan bagian-bagian ubuh sapi yang dapat mengotori hasil pemerahan dapat dilakukan dngan cara:
– Mencuci lantai kandang dengan menyemprotkan air yang bertekanan tinggi. Dengan cara demikian sisa-sisa makanan yang telah basi dan berbau teruci bersih, sehingga susu tidak tercemari oleh kotoran di kandang.
– Apabila menjelang pemerahan sapi belum sempat dimndikan, maka kotoran yang melekat pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti mbing dicuci terlebih dahulu.
– Seharusnya ambing dan putting dicuci denga air hangat dan desinfektan;yaitu ambing digosok dengan spon, kemudian dikeringkan dengan kain lap yang lunak.Pada saat itu ambing sedikit dimasage pelan-pelan. Pencucian ambin g dengan air hangat dan desinfektan ini ialah untuk menjaga kebersihan air susu dan mengurangi pencemaran. Sedangkan masage adaalh untuk merangsang keluarnya air susu ,tapi dilapangan hanya dilakukan pelicingan putting dengan minyak.
– Setelah langkah diatas, putting dikeringkan dengan kain satu persatu, kemudian satu atau dua pancaran perahan awal dari setiap putting dibuang atau ditampung di tempat tertentu untuk pengamanan. Air susu hasil perahan awal itu kotor, jadi tidak boleh dicampur dengan hasil susu perahan berikutnya yang bersih. Sehabis dilakukan pemerahan saluran susu pada putting selalu terbuka, maka harus diusahaka agar tidak kemasukan kotoran ataupun bakteri.
c. Mengikat Sapi
Sapi di ikat dengan tali pendek. Tujuannya agar sapi tidak “ngggobik” atau berontak. Di samping di ikat, kaki belkang dan ekor pun diikat pula, terutama pada sapi yang nakal, suka beronak atau menyepak. Sedangkan pengikatan ekor dimaksudkan agar sapi tidak mengibas-ngibaskan ekor sehingga megotori air susu dalam ember.Caranya ialah ujung ekor diikat dengan salah satu kaki belakang.
d. Mencuci Tangan
Sebelum memereah, tangan dibersihkan dahulu dengan air bersih. Standarnya mengngunakan air hangat, sabun dan desinfektan lalu dikeringkan. Kemudian tangan diolesi dengan minyak kelapa, agar pemerahan dapat lebih lembut, sapi tidak merasa sakit.
e. Melicinkan puting
Putting sapi yang akan diperah perlu diolesi minyak kelapa/faselin yang bertujuan memuudahkan proses pemerahan dan sapi tidak merasa sakit. Jika putting licin dan tangan pemerah lembut, maka sapi tidak akan dperah, terutama sapi yang baru pertama kali berproduksi.
f. Merangsang Keluarnya Air susu Melalui Pedet dan Pemerahan Bertahap Khusus bagi sapi-sapi yang baru pertama kali berproduksi kadang-kadang masih sulit diperah. Kasus seperti ini dapat dicoba dengan cara:
– Menyusukan pedet pada induk yang akan diperah sebagai langkh awal pemerahan sehingga proses pemerahan selanjutnya dilaksanakan dengan lancar.
– Melakukan pemerahan brtahap, yakni sapi diperah sedikit demi sedikit. Dengan
g. Perlengkapan dan Peralatan
Persiapan sebelum memerah antara lain: ember tampat pemerahan, tali pengikat kaki, tali pengikat ekor(jika diperlukan),milk-can untuk menampung susu,dan kain bersih untuk menyaring susu terhadap kotoran dan bulupada saat susu dituangkan ke dalam milk-can.

3. Teknik Pemerahan
Teknik pemerahan dilakukan dengan tangan/manual, yang dibedakan lagi menjadi dua macam, yakni:
a. Dengan cara memegang pangkal putting susu antara ibu jari dan jari tengah. Caranya: kedua jari ditekankan serta sedikit ditarik ke bawah, sehingga ai susu terpancar mengalir keluar. Teknik ini dilakukan bagi sapi-sapi yang memiliki putng pendek.
b. Menggunakan kelima jari
Cara kerja : putting dipegang antara ibu jaridan keempat jari lainnya. Penekanan dengan keempat jari tersebut diawali dari jari yang paling atas kemudian diikuti oleh jari lai yang ada dibawahnya. Begitu seterusnya dengan cara yang sama dan diulang-ulang sampai air susu yang ada di diambing memancar keluarn da akhrnya seluruh susu yang berada di dalam ambing kosong sama sekali.
Setiap proses pemerahan diakukan secepat mungkin, sebab pemerahan yang terlaalu lama akan menimbulkan efek yang kurang baik bagi sapi.

4. Produk Susu Yang Dihasilkan
• Susu segar
Susu segar ialah air susu hasil pemerahan yang tidaak dikurangi atau ditambah apapun, yang diperoleh dari pemerahan sapi yang sehat secara kontinu sampai apuh. Setelah air susu disaring ,lansung dipasarkan ke konsumen, dengan cara di bungkus dengan pallastik ,diikat lalu di bawa keliling memakai sepeda motor.

5. Pedoman Teknis Budidaya
• Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan. Type kandang sapi perah di Banyumulek ini adalah termasuk type ganda.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
• Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai eturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelokkelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak.

Sementara calon induk yang baik antara lain: (a) berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar, (c) jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar, (d) pertumbuhan ambing dan puting baik, (e) jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta (f) sehat dan tidak cacat.

Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4- 5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e) besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g) muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
1) Pemilihan bibit dan calon induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
2) Perawatan bibit dan calon induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.
3) Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.

• Pemeliharaan
Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
1. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 1 hari sekali( standarnya 2x sehari). Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar).

Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
2. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
a) sistem penggembalaan (pasture fattening)
b) kereman (dry lot fattening)
c) kombinasi cara pertama dan kedua.
3. Pakan
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari.
Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
Pilihan makanan sapi di kandang sapi perah Banyumulek adalah berupa hijauan dari tebong jagung, rumput gajah dan jenis rumput lainnya. Sedangkan dari jenis kosentrat berupa kosentrat berbentuk pellet.
4. Pemeliharaan Kandang
Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara di dalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Dan disediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

6. Penyakit Yang Biasa Menyerang
• Mastitis
Mastitis adlah penyakit pada ambing dari peradangan kelenjar susu.
Penyebab
Penyebabnya adalah streptococcus cocci dan staphyococcus cocci.

Penularan
Bakteri ini masuk melalui putting dan kemudian berkembanbiak dalam kelenjar susu. Hal ini erjadi karena putting yang habis diperah terbuka dan kemudian kontak dengan lantai atu tangan pemerah yang terkontaminasi bakteri

Gejalanya
– Ambng kena infeksi membesar karena terjad pembekakan .
– Bila ambing tesebut diraba terasa panas.
– Air susu berubah menjadi encer atau bergumpal, dan kadang-kadang bercampur
darah atau nanah.
– Napsu makan menurun ,bulu kusam dan kasar.
– Produksi air susu mengalami penurunan , bahkan lama-lama sekresi air susu terhenti
sama sekali.
Pencegahan/pengobatan
– Usahakan lantai kandang selalu dalam keadaan bersih dsn kering.
– Hindarkan hal-hal yang dapat mengkibatkan ambing/putting terluka.
– Setiap akan diperah , ambing haru selalu dalam keadaan bersih, higienis.
– Sapi yang menderita mastistis harus dipisahkan dari sapi lain/sehat.
– Pemerah harus selalu berupaya agar tangan dalam keadaan bersih, dan kuku tidak
melukai putting.
– Setiap pemerahan harus smpai “apuh”, tak ada air susu yang tertinggal dlm putting.
– Pengobatan:
1. Diberi suntikan antibiotok seperti penicilin; sulfamethazine melalui mulut(oral).
2. Diberikan penicilin mastitis ointment, chlortetracyline oincment, atau oxytetracycline
mastitis ointment.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.

Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.

Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5- 4% dari bahan kering.
• Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan ratarata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansiinstansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengembangan usah ternak sapi perah masih memiliki peluang yang cukup bagus
bagi wilayah NTB, apalagi dengan adanya program dari pemerintah yaitu Bumi
Sejuta Sapi(BSS).
2. Mahasiswa mendapatkan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan dalam
melakukan pemerahan sapi.

B. Saran
1. Untuk mendapatkan ilmu dilapangan, diharapkan mahasiswa praktikum serius dan
antusias dalam mengikuti kegiatan dilapangan/kandang sapi perah. Sehingga ilmu
yang didapatkan bis bermanfaat tidak hanya bagi pribadi tetapi bisa juga diterapkan
di masyarakat umum.
2. Sebagai mahasiswa sebelum berangkat praktik, harus menyiapkan bekal ilmu,
terlebih ilmu dasar yang berkaitan dengan sapi perah, sehingga tidak gagap/kagok
dilapangan.

LAPORAN
PEMBUATAN KOMPOS

Oleh

ROSDIANA
BOD. 009. 027
D3 KESEHATAN HEWAN

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITIS UNRAM
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Limbah sebagai sisa- sisa produksi yang tidak terpakai keberadaannya saat ini masih menjadi sumber permasalahan. Berbagai macam bentuk limbah yang dihasilkan baik berupa cair, padat maupun gas belum ditangani secara baik sehingga limbah yang seharrusnya didaur ulang telah menjadi sumber pencemaran. Limbah tidak hanya dihasilkan dari dunia industry saja melainkan juga dari sector pertanian/peternakan.
Pesatnya pembangunan pertanian dalam rangka pengembangan agribisnis dan agroindustri yang berkesinambungan ini telah mendorong perrtumbuhan sector pertanian terrjadi peningkatan. Begitu pula halnya yang terrjadi pada subsector peternakan, meskipun saat ini Indonesia masih tetap eksis bahkan menunjukkan peningkatan.
Peningkatan produksi yang didorong untuk memenuhi permintaan dalam maupun luar negeri memang memberikan keuntungan dan sangat diharapkan. Namun disisi lain, peningkatan produksi ternak secara tidak langsung terrsebut juga menimbulkan dampak negative. Diantarranya adalah limbah yang dihasilkan darri ternak itu sendiri. Disadarri atau tidak, limbah ini selain menganggu lingkungan sekitar, juga dapat menimbulkan bibit penyakit bagi manusia.
Limbah peternakan yang dihasilkan ada yang berrupa kotoran (pupuk kandang) ada pula yang berupa sisa- sisa makanan. Setiap usaha peternakan baik itu berupa sapi, ayam, kuda, kambing maupun babi akan menghasilkan kotoran. Namun jangan salah, kotoran yang dihasilkan ternak tersebut ternyata memiliki kandungan ungsur hara yang tinggi sehingga tidak salah bila para petani menggunakannya sebagai pupuk.

BAB II
ISI

A. MEMBUAT PUPUK KOMPOS DARI KOTORAN SAPI
Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan – bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos.
Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.
Proses :
Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol. Bahan yang diperlukan adalah kotoran sapi : 80 – 83%, serbuk gergaji (bisa sekam, jerami padi dll) : 5%, bahan pemacu mikroorganisame : 0.25%, abu sekam : 10% dan kalsit/kapur : 2%, dan juga boleh menggunakan bahan-bahan yang lain asalkan kotoran sapi minimal 40%, serta kotoran ayam 25 %.
Tempat pembuatan adalah sebidang tempat beralas tanah dan dibagi menjadi 4 bagian (lokasi 1, 2, 3, 4) sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan tempat tersebut ternaungi agar pupuk tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. Prosesing pembuatannya adalah pertama kotoran sapi (fases dan urine) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk mendapatkan kadar air mencapai ¬+ 60%, kemudian kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut dipindahkan ke lokasi 1 tempat pembuatan kompos dan diberi serbuk gergaji atau bahan yang sejenis seperti sekam, jerami padi dll, serta abu, kalsit/kapur dan stardec sesuai dosis, selanjutnya seluruh bahan campuran diaduk secara merata. Setelah satu minggu di lokasi 1, tumpukan dipindahkan ke lokasi 2 dengan cara diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu hingga mencapai 70 derajat celcius untuk mematikan pertumbuhan biji gulma sehingga kompos yang dihasilkan dapat bebas dari biji gulma.

LAPORAN PEMGEPRESAN JERAMI
A. PENGEPRESAN JERAMI
Upaya penyediaan kebutuhan pakan ternak khususnya ruminansia terus diupayakan seiring dengan meningkatnya populasi ternak di Indonesia. Namun untuk memenuhi kebutuhan pakan bernutrisi masih dijumpai banyak kendala mulai dari bahan baku pakan, bentuk maupun sistem agribisnisnya. Pada musim penghujan atau panen, bahan hijauan pakan yang merupakan limbah pertanian seperti jerami melimpah. Bahkan limbah jerami diperkirakan berjumlah 65,5 juta ton per tahun di Indonesia. Untuk dijadikan sebagai bahan pakan, kandungan nutrisi jerami tergolong rendah, akan tetapi jika diolah dan dicampur dengan bahan pakan lainnya dapat menjadi pakan bernutrisi tinggi. Tujuan kegiatan ini adalah merekayasa mesin pengepres jerami untuk membuat pakan komplit ternak ruminansia. Bahan pakan diproses dengan pengepresan sehingga pakan dapat dibuat dalam bentuk blok yang padat dan sederhana. Komponen penyusun pakan ini terdiri dari jerami/rumput tanpa atau dengan fermentasi, konsentrat, dan bahan perekat berupa tepung tapioka atau molase. Mesin ini mencukupi untuk kebutuhan pakan ternak skala kelompok dengan populasi ruminansia + 250 ekor. Mesin ini telah direkayasa dan diuji di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian pada tahun 2002 dengan kapasitas 200 kg/jam. Mesin pengepres pakan komplit ini dapat mencetak pakan berbentuk blok dengan dimensi panjang 300 mm, lebar 200 mm, dan tinggi 100 mm dengan bobot 4 kg/blok.
PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

OLEH

ROSDIANA
BOD.009.027

D3 KOSENTRASI HEWAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmatNya sehingga penyusun mampu menyelesaikan laporan ini sesuai dengan waktu yang diberikan. Laporan ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat penilaian mata kuliah Tekhnologi Pengolahan Hasil Peternakan.
Makalah ini berisi antara lain tentang energy baru dari kotoran, kajian tekhnologi energy dan sebagainya.
Penyusun menyadari bahwa peprini masih jauh dari sempurna dan banyak kekuranggannya, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan untuk penyempurnaannya.

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan Peternakan di Indonesia di Nusa Tenggara Barat kian menunjukkan peningkatannya, terbukti dengan adanya program Pemerintah NTB BSS (Bumi Sejuta Sapi) sebagai upaya pemerintah untuk menjadikan NTB sebagai lumbung ternak, tidak hanya kaya akan komoditas sapi, tetapi juga kaya dengan komoditas ternak lainnya, program ini diharapkan bisa berhasil dengan melihat potensi NTB yang memiliki lahan pertanian dan peternakan yang masih luas.
Sebagai salah satu upaya mendorong majunya peternakan, pemanfaatan kotoran ternak akan sangat membantu dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.
Problemantika umum usaha peternakan di negara-negara tropis seperti di Indonesia adalah faktor suhu lingkungan dan kelembapan udara yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak. Lingkungan yang relatif panas menyebabkan sebagian ternak akan enggan makan sehingga secara kuantitas asupan zat makanan nutrient yang masuk dalam tubuh juga kurang. Padahal, asupan ini berperan penting untuk menckupi kebutuhan pokok, perrkembangan tubuh dan untuk kebutuhan berproduksi.

B. Tujuan
Menambah pengetahuan dan wawasan para mahasiswa D3 Kosentrasi Kesehatan Hewan dalam Ilmu Tekhnologi Pengolahan Limbah

C. Manfaat
Adapun kegunaan dari makalah ini adalah sebagai sarana menambah ilmu pengetahuan dan skill, sehingga menciptakan mahasiswa yang terampil dan profesional serta mampu mengaplikasikan dan menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan berrmasyarakat.

BAB II
ISI

A. Energi Baru Dari Kotoran Ternak
Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organik tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut Biogas). Biogas yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.
Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:
Jenis Gas Volume (%)
Methana (CH4) 40 – 70
Karbondioksida (CO2) 30 – 60
Hidrogen (H2) 0 – 1
Hidrogen Sulfida (H2S) 0 – 3
Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian oksigen (O2). Namun demi- kian, untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal, perlu dilakukan pra kondisi sebelum Biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena Biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak menguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas Hidrogen Sulfida yang tinggiyang terdapat dalam Biogas jika dicampur dengan Oksigen dengan perbandingan 1:20, maka akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan terjadinya ledakan pada sistem Biogas sederhana.

Gbr. Api Bio Gas dari kotoran ternak Diagram alir biogas Proses.

B. Kajian Teknologi Energi
Biogas sistem anaerob (kedap udara) dapat dibuat dengan mudah. Terdapat dua jenis sistem biogas, yaitu jenis terapung (floating) dan jenis kubah tetap (fixed dome). Pada tipe terapung, diatas tumpukan bahan bio (digester) diletakkan drum terbalik dalam posisi terapung. Pada reaktor biogas jenis kubah tetap, digester diletakkan didalam tanah dan bagian atasnya dibuat ruangan dengan atap seperti kubah terbalik. Fungsi drum terbalik atau kubah terbalik ini untuk menampung biogas yang dihasilkan dari digester. Gambar-gambar di bawah menunjukkan kedua jenis reaktor biogas yang dimaksud.

Gambar. Reaktor biogas jenis terapung

Gambar. Reaktor biogas jenis kubah tetap.
Tumpukan bahan bio diselimuti oleh bahan yang tidak mudah bocor, misalnya plastik yang tahan pada temperatur agak tinggi. Kemudian dibagian luarnya dibuat dinding seperti membuat dinding bangunan rumah. Alternatif lain, dinding digester dapat dibuat dari plat yang agak tebal. Selain digester, diperlukan juga saluran masuk untuk bahan baku, saluran keluar lumpur sisa (slurry) dan saluran/pipa untuk distribusi biogas yang terbentuk.
Berikut contoh pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas. Rata-rata dapat diasumsikan bahwa 1 ekor sapi menghasilkan kotoran 5 kg/hari. Dengan 16 ekor sapi akan diperoleh kotoran 80 kg/hari. Kotoran tersebut kemudian dicampur dengan air 80 liter. Hasil yang diperoleh adalah biogas 1 m3/hari atau setara dengan 0.65 m3 gas CH4 yang mengandung energi sebesar 6.5 kWh. Perlu dicatat bahwa beberapa penelitian bahkan menyebutkan kotoran sapi yang dikeluarkan perharinya di Indonesia bisa mencapai 22 kg/hari [1]. Angka terakhir ini sepertinya terlalu besar kalau hanya memperhitungkan fesesnya saja. Data yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa pada peternakan sapi perah, sapi potong dan kerbau diperoleh kotoran rata-rata perhari sebesar 12 kg/ekor [2].
Jenis floating drum di Indonesia dengan kapasitas digester 27 m3 biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya adalah sebesar Rp. 9.000.000. Untuk biodigester skala kecil kapasitas 0,2 m3 dapat dibuat dari dua drum bekas. Biaya untuk skala kecil ini sekitar Rp. 200.000.
Khusus mengenai gas CH4 perlu diperhatikan adanya kemungkinan ledakan. Karakteristik lain dari CH4 murni adalah mudah terbakar. Kandungan metana dengan udara akan menentukan pada kandungan berapa campuran yang mudah meledak dapat dibentuk. Pada LEL (lower explosion limit) 5.4 vol% metana dan UEL(upper explosion limit) 13.9 vol%. Dibawah
5.4% tidak cukup metana sedangkan, diatas 14% terlalu sedikit oksigen untuk
menyebabkan ledakan. Temperatur yang dapat menyebabkan ledakan sekitar 650–750 oC , percikan api dan korek api cukup panas untuk menyebabkan ledakan

C. Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi sebagai Alternatif untuk Mencapai Swadaya Energi
– Biofuel
Biogas merupakan salah satu dari jenis biofuel, bahan bakar yang bersumber dari makhluk hidup dan bersifat terbarukan. Berbeda dari bahan bakar minyak bumi dan batu bara, walaupun proses awal pembuatannya juga dari makhluk hidup, namun tidak dapat diperbaharui karena pembentukan kedua bahan bakar tersebut membutuhkan waktu jutaan tahun. Biofuel sendiri merupakan salah satu contoh biomassa. Sesuai dengan namanya, Biogas adalah bahan bakar berbentuk gas.
Paling tidak, ada dua macam Biogas yang dikenal saat ini, yaitu Biogas (yang juga sering disebut gas rawa) dan Biosyngas. Perbedaan mendasar dari kedua bahan diatas adalah cara pembuatannya. Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik dengan bantuan bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas. Energi biogas didominasi oleh gas metana (CH4) 60%-70%, karbondioksida 40%-30% dan beberapa gas lainnya dalam jumlah yang lebih kecil. Sedangkan Biosyngas (atau lebih sering disingkat Syngas atau Producer Gas) adalah produk antara (intermediate) yang dibuat melalui proses gasifikasi thermokimia dimana pada suhu tinggi material kaya karbon seperti batubara, minyak bumi, gas alam atau biomassa dirubah menjadi karbon monoksida (CO) dan hidrogen (O2). Apabila bahan bakunya batubara, minyak bumi dan gas alam, maka disebut Syngas, sedangkan jika bahan bakunya biomassa maka disebut Biosyngas. Biosyngas dapat digunakan langsung menjadi bahan bakar atau sebagai bahan baku untuk proses kimia lainnya.

- Digester Reaktor Biogas
Pada prinsipnya, pembuatan Biogas sangat sederhana, hanya dengan memasukkan substrat (kotoran ternak) ke dalam digester yang anaerob. Dalam waktu tertentu Biogas akan terbentuk yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi, misalnya untuk kompor gas atau listrik. Penggunaan biodigester dapat membantu pengembangan sistem pertanian dengan mendaur ulang kotoran ternak untuk memproduksi Biogas dan diperoleh hasil samping (by-product) berupa pupuk organik. Selain itu, dengan pemanfaatan biodigester dapat mengurangi emisi gas metan (CH4) yang dihasilkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian dan peternakan, karena kotoran sapi tidak dibiarkan terdekomposisi secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi gas bio.
Sebagaimana kita ketahui, Gas metan termasuk gas rumah kaca (greenhouse gas), bersama dengan gas CO2 memberikan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global. Pengurangan gas metan secara lokal ini dapat berperan positif dalam upaya penyelesaian masalah global.
Potensi kotoran sapi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan Biogas sebenarnya cukup besar, namun belum semua peternak memanfaatkannya. Bahkan selama ini telah menimbulkan masalah pencemaran dan kesehatan lingkungan. Umumnya para peternak membuang kotoran sapi tersebut ke sungai atau langsung menjualnya ke pengepul dengan harga sangat murah. Padahal dari kotoran sapi saja dapat diperoleh produk-produk sampingan (by-product) yang cukup banyak.
Sebagai contoh pupuk organik cair yang diperoleh dari urine mengandung auksin cukup tinggi sehingga baik untuk pupuk sumber zat tumbuh. Serum darah sapi dari tempat-tempat pemotongan hewan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman, selain itu dari limbah jeroan sapi dapat juga dihasilkan aktivator sebagai alternatif sumber dekomposer.
Jika dibandingkan dengan bahan bakar nabati lainnya, nilai kalori Biogas sangat tinggi, yaitu sebesar 15.000 KJ/Kg jika dibandingkan dengan arang (7.000 KJ/Kg), kayu (2.400 KJ/Kg) bahkan minyak tanah (8.000 KJ/Kg). Oleh sebab itu, aplikasi penggunaan biogas bisa dikembangkan untuk memasak dan penerangan (menghasilkan listrik).
– Bagaimana membuat Biogas dari kotoran sapi?
Sebagaimana telah diterangkan diatas, membuat biogas dengan kotoran sapi cukup mudah. Hanya dengan memasukkan kotoran sapi kedalam digester anaerob, dan mendiamkannya beberapa lama, Biogas akan terbentuk. Hal ini bisa terjadi karena sebenarnya dalam kotoran sapi yang masih segar terdapat bakteri yang akan men-fermentasi kotoran tersebut. Tanpa dimasukkan ke dalam digester pun biogas sebanarkan akan terbentuk pada proses dekomposisi kotoran sapi, namun prosesnya berlangsung lama dan tentu saja biogas yang dihasilkan tidak dapat kita gunakan.
Ada tiga jenis digester yang telah dikembangkan selama ini, yaitu:
1. Fixed dome plant, yang dikembangkan di china,
2. Floating drum plant, yang lebih banyak dipakai di India dengan varian plastic cover
biogas plant, dan
3. Plug-flow plant atau balloon plant yang banyak digunakan di Taiwan, Etiopia,
Kolombia, Vietnam dan Kamboja. Jenis ini juga yang banyak digunakkan oleh petani
kita di daerah Lembang dan Cisarua.
Bagian-bagian pokok digester gas bio adalah:
1. bak penampung kotoran ternak,
2. digester,
3. bak slurry,
4. penampung gas,
5. pipa gas keluar,
6. pipa keluar slurry,
7. pipa masuk kotoran ternak.
– Fixed dome plant
Pada fixed dome plant, digesternya tetap. Penampung gas ada pada bagian atas digester. Ketika gas mulai timbul, gas tersebut menekan slurry ke bak slurry. Jika pasokan kotoran ternak terus menerus, gas yang timbul akan terus menekan slurry hingga meluap keluar dari bak slurry. Gas yang timbul digunakan/dikeluarkan lewat pipa gas yang diberi katup/kran.
Keuntungan: tidak ada bagian yang bergerak, awet (berumur panjang), dibuat di dalam tanah sehingga terlindung dari berbagai cuaca atau gangguan lain dan tidak membutuhkan ruangan (diatas tanah).
Kerugian: Kadang-kadang timbul kebocoran, karena porositas dan retak-retak, tekanan gasnya berubah-ubah karena tidak ada katup tekanan.
– Floating drum plant
Floating drum plant terdiri dari satu digester dan penampung gas yang bisa bergerak. Penampung gas ini akan bergerak keatas ketika gas bertambah dan turun lagi ketika gas berkurang, seiring dengan penggunaan dan produksi gasnya.
Keuntungan: Tekanan gasnya konstan karena penampung gas yang bergerak mengikuti jumlah gas. Jumlah gas bisa dengan mudah diketahui dengan melihat naik turunya drum.
Kerugian: Konstruksi pada drum agak rumit. Biasanya drum terbuat dari logam (besi), sehingga mudah berkarat, akibatnya pada bagian ini tidak begitu awet (sering diganti). Bahkan jika digesternya juga terbuat dari drum logam (besi), digeseter tipe ini tidak begitu awet.

- Baloon plant
Konstruksi balloon plant lebih sederhana, terbuat dari plastik yang pada ujung-ujungnya dipasang pipa masuk untuk kotoran ternak dan pipa keluar peluapan slurry. Sedangkan pada bagian atas dipasang pipa keluar gas.
Keuntungan: biayanya murah, mudah diangkut, konstruksinya sederhana, mudah pemeliharaan dan pengoperasiannya.
Kerugian: tidak awet, mudah rusak, cara pembuatan harus sangat teliti dan hati-hati (karena bahan mudah rusak), bahan yang memenuhi syarat sulit diperoleh.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hasil limbah peternakan sangat melimpah di sekitar kita. Bila dimanfaatkan dengan baik akan meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama di lingkungan pedesaan.

B. Saran
Diharapkan agar tidak hanya sampai pada penyusunan paper tentang pemanfaatan limbah hasil peternakan tapi juga perlu adanya praktek di lapangan.

5 Comments

  1. Pingback: Perlly

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s