Negara Komunitas, Komunal, dan Mufakat

Standard

Saya mengangkat kembali bahasan mengenai negara komunitas. Ini mungkin akan menjadi perbincangan sengit antara komunitas-komunitas tertentu. Karena mereka hanya menumpang atas nama “Negara Kesatuan Republik Indonesia” tetapi sejatinya mereka tidak ada perasaan yang mendalam terhadap NKRI, mereka lebih mengutamakan komunitasnya sendiri. Hal ini merupakan suatu dilema yang harus dihadapi oleh negara, gerakan-gerakan bayangan untuk menguasai negara senantiasa ditanamkan sejak dini melalui tulisan-tulisan sosialisme.
Pendapat saya terkait politik komunitas adalah memberikan keadaan yang kotak-kotak pada negara sehingga haruslah diperkuat pada pondasi awal. Sebagai langkah awal adalah pengenalan dan penanaman nilai empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Penanaman kembali tersebut memberikan dampak positif agar hal-hal yang urgent tidak terpecah belah. Negara sekuat apapun apabila rakyatnya terpecah belah maka asing cepat masuk mengintervensi terhadap negara tersebut.
Pemahaman empat pilar kebangsaan ssenantiasa dibuat untuk menciptakan persatuan pada negara Indonesia. Mengembalikan karakteristik komunal yang ada pada bangsa sehingga tidak dapat dipengaruhi begitu saja oleh negara lain. Kalaupun dipengaruhi maka konsekuensinya lebih kecil dibandingkan tanpa pengamalan empat pilar kebangsaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh globalisasi yang begitu cepat bisa merubah paradigma para penerus bangsa. Menggalakkan kembali atau benar-benar kehilangan jati diri sebagai bangsa.
Read the rest of this entry

Persamaan di Hadapan Hukum: Antara Bayang-Bayang dan Kenyataan

Standard

Judul : Persamaan di Hadapan Hukum: Antara Bayang-Bayang dan Kenyataan

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Saat ini kian deras terdengar pemberitaan mengenai tukang sate yang mencemarkan nama baik presiden sehingga dilakukan penahanan. Walaupun masih belum menjadi terdakwa tetapi hal tersebut menjadikan hal yang tidak biasa karena beberapa praktisi hukum berdebat mengenai hal tersebut. Bagi aliran hukum positivistik mengatakan bahwa hukum tidak pandang bulu, tidak ada pembedaan antara kaya dan miskin, ketika dia sudah melakukan kesalahan atau kejahatan dan memiliki minimal dua alat bukti maka bisa dilakukan penahanan. Ada juga yang berpendapat bahwa terlalu berlebihan jika memberlakukan penahanan terhadap hal tersebut karena bisa dilakukan dengan cara-cara kekeluargaan, kalaupun ditangkap akan menambah catatan rentetan panjang hukum di Indonesia.
Kedua pandangan tersebut tentu saja tidak ada yang salah, semuanya benar, karena di dalam berpandangan tentu saja memiliki alasan yang kuat mengenai hal tersebut. Menegakkan hukum tanpa pandang bulu merupakan cita-cita bersama yang harus dijunjung Warga Negara Indonesia, begitu juga mengenai perlindungan terhadap hak-hak sebagai warga negara juga wajib untuk dilindungi. Keduanya merupakan suatu hal yang harus atau wajib ada bagi negara yang menganut negara hukum. Adanya pengakuan hak-hak senantiasa melindungi warga negara agar tidak tertindas dari kekuasaan pemerintah yang cenderung otoriter.
Menyingkap kedua tabir merupakan suatu hal yang menarik untuk diungkapkan terutama di dunia penegakan hukum di Indonesia, lebih khusus lagi pada ranah peradilan. Antara penegakan dan persamaan di hadapan hukum terkadang tidak berjalan secara sinergi dan seimbang, tentu saja hal tersebut memberikan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat luas karena berdampak pada ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum di Indonesia. Beberapa kejadian penegakan hukum yang janggal yang penulis angkat kembali dalam tulisan ini terjadi pada tanggal 21 Januari 2013, saat itu suami Yusmarul Hayati, yakni TZ dijadikan terdakwa atas tuduhan melakukan pemalsuan tanda tangan atas kepemilikan surat tanah warisan. TZ mendapat vonis dari Pengadilan Negeri Gunungsitoli selama satu tahun penjara. Namun vonis tersebut lebih rendah daripada tuntutan jaksa yang memberinya tuntutan penjara selama lima tahun.  Dalam BAP kasus ini pada kepolisian dan Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, tidak dihadirkan saksi dari pihak terdakwa serta penasehat hukum. Beberapa kejanggalan ini membuat Yusmarul Hayati mencari keadilan hingga ke Jakarta. Seharusnya sejak TZ ditetapkan menjadi tersangka maka TZ diperbolehkan menunjuk penasehat hukum untuk mendampinginya, begitu juga dalam hal pembuktian. Pembuktian harus dilakukan dari dua pihak, yakni saksi dari pihak Jaksa Penuntut Umum dan Saksi dari pihak Tersangka sebagai upaya pembelaan. Kejanggalan tersebut senantiasa memberikan ruang ketidakpastian serta ketidakadilan pada hukum. Padahal hukum senantiasa dibentuk dengan landasan kepastian, keadilan, dan kemanfaatan.
Adanya persamaan di hadapan hukum terkadang tidak dibarengi semangat penegakan hukum. Hal tersebut memberikan cerminan bahwa hukum senantiasa tidak dibangun atas dasar integratif antara satu dengan lainnya sehingga menyatukan antara komponen yang satu dengan lainnya menjadi hal yang sangat penting. Pesamaan merupakan suatu hal yang sulit diwujudkan ketika dalam diri pribadi tidak ingin mewujudkannya, artinya bahwa adanya persamaan itu muncul dari itikad baik individu-individu. Ketika itikad baik ini tidak muncul maka dapat dipastikan bahwa hubungan yang tercapai adalah hubungan yang berat sebelah. Hubungan yang tidak seimbang inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan pada salah satu pihak. Untuk itulah penulis mengangkat persamaan di hadapan hukum sebagai topik bahasan penulis dalam makalah ini.

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep persamaan di hadapan hukum ditinjau dari Tata Hukum Indonesia?
2. Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan terhadap persamaan di hadapan hukum?

Read the rest of this entry

Sejarah Hukum Dari Masa ke Masa

Standard

Saya mengawali tulisan ini dengan memberikan sebuah pandangan tentang hukum, karena membahas mengenai sejarah hukum tidak lepas dari komponen dasar yang membentuknya, yakni hukum. Istilah “hukum” adalah kata tunggal yang tidak pernah memiliki makna tunggal. Hart telah memberikan analogi hukum sebagai seekor gajah yang dipegang oleh beberapa orang penyandang tuna netra. Begitu beragamnya pendapat dan pandangan masing-masing tuna netra tergantung dari bagian tubuh gajah yang dipegang atau disentuh.  Makna beragam terkait “hukum” inilah yang menjadi perdebatan para sarjana hukum dari masa ke masa dalam memaknai hukum. Hal ini yang menyebabkan adanya aliran-aliran atau mahdzab dalam mempelajari hukum.
Bagi akademisi, hukum merupakan fakta atau fenomena yang menjadi dasar atau bahan untuk membangun teori dan ilmu pengetahuan hukum atau doktrin hukum. Sedangkan bagi aparat penegak hukum, hukum dimaknai sebagai perintah dari negara dan sekaligus pedoman untuk melalukan penyelidikan, penyidikan, dan/atau pengambilan putusan terhadap tindak atau perbutan pidana atau konflik/sengketa hukum tertentu.

Pandangan Para Ahli Terkait Sejarah Hukum
1. Prof. L.J. Van Apeldoorn
Sejarah hukum merupakan pertelaan sejumlah peristiwa-peristiwa yuridik dari zaman dahulu yang disusun secara kronologis, terus bergerak dan hidup.  Penyeledikan secara sejarah mempunyai sifat membebaskan, ia membebaskan kita dari prasangka-prasangka sehingga dituntut untuk kritis dalam segala hal.
2. Prof. Satjipto Rahardjo
Sejarah hukum merupakan proses terbentuknya hukum, bahwa hukum yang sekarang mengalir dari hukum sebelumnya atau masa lampau. Mengenali dan memahami secara sistematis proses-proses terbentuknya hukum, faktor-faktor yang menyebabkan dan sebagainya, memberikan tambahan pengetahuan yang berharga untuk memahami fenomena hukum dalam masyarakat. Studi sejarah hukum merupakan studi yang bersifat interdisipliner, oleh karena itu menggunakan berbagai macam cara pendekatan sekaligus, seperti sosiologi, postivistik, dan erat hubungannya dengan perbandingan hukum.

Read the rest of this entry

Kenangan : karakter orang Arab yang keras

Standard

Setidaknya saya menjadi saksi atas keras kepalanya orang arab. Saat itu pukul 10 pagi pada hari jum’at, di Masjid Nabawi, Madinah. Orang sudah menata shaf-shaf untuk melaksanakan sholat jumat. Dagangan2 sekitar Masjid hari itu juga sudah tutup semua. Yang menjadi menarik perhatian saya adalah orang-orang berebutan untuk mendapatkan shaf-shaf awal. Tidak terkecuali bagi yang telat datang juga selalu membidik shaf awal. Jumat itu saya bersyukur bisa berada di shaf awal.

Read the rest of this entry

Kenangan di Negeri Orang

Standard

Ada cerita menarik pagi ini. Saya menyalin catatan harian saya ke dalam blog ini, karena saya anggap hal ini menarik untuk dibagi.

Tepat tanggal 15 April 2014 saya tiba di Madinah, yang disebutkan di dalam Alqur’an. Madinah, salah kota indah yang pernah saya lihat. Tata kota yang bagus dan kondisi taman yang terawat serta bersih, persis seperti keadaan di eropa sana.
Malam itu aku tiba disana setelah melewati 5 jam perjalanan dari Jeddah. Tiba disana sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Check in hotel dan beres-beres, setelah itu kumpul di Masjid Nabawi. Kesan pertama saat itu adalah air mataku tumpah ruah, betapa jauhnya aku berjalan untuk bisa melihat kondisi Masjid yang dikatakan apabila beribadah di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya sebanyak 1000 kali. Disini dapat dilihat jelas bahwa orang-orang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, saya juga lebih tahu lagi karakter orang Arab yang keras bisa dilihat disini juga. Mungkin nanti saya akan ceritakan pada bagian selanjutnya.

Setelah pukul 21.00, saya kembali lagi ke penginapan. Istirahat lebih pagi untuk bisa tahajjud di raudlah. Ya, paginya bangun pukul 02.30 pagi dan segera siap2 untuk beribadah. Pukul 03.00 tiba di masjid Nabawi, hal pertama yang saya lihat bahwa begitu berlimpah ruahnya manusia di dalam Masjid ini, tidak sama kondisinya dengan tanah air. Saya tidak bisa memasuki raudlah karena sudah penuh saat itu. Alhasil cuman bisa shalat di karpet merah dekat dengan keluarga raja. Disini terdapat tempat khusus untuk keluarga raja, dekat dengan tempat imam solat. Perlu diketahui bahwa raudlah adalah tempat yang diberi karpet hijau. Di Madinah, tempat yang doanya dikabulkan di Raudlah, kalau di Mekkah di Multazam.

Ada satu hal yang perlu diketahui bahwa saat di Madinah, dari menunggu waktu adzan saya tidak terkantuk. Tetapi saat menunggu waktu iqomat saya mengantuk, betul-betul ujian yang berat bagiku saat itu, yang membuatku mengantuk bukan karena kurang tidur atau bagaimana tapi memang suasananya tenang, nyaman, sejuk dan hening. Pokoknya membuat otak serasa direlaksasi, seperti alam bawah sadarku meningkat drastis.
Setelah solat shubuh, orang-orang tidak langsung meninggalkan tempat. Ada yang berdzikir, mengaji, dan ada juga yang mengucapkan salam penghormatan kepada Rasulullah melalui pintu baabussalam. Saat itu saya lebih memilih untuk membaca Alqur’an.

Read the rest of this entry