PERGESERAN IDEOLOGI Partido dos Trabalhadores (PT)

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Brazil telah mengalami beberapa transisi sistem politik, mulai dari sistem monarki hingga akhirnya berganti menjadi sistem demokrasi-yang ditandai dengan terbentuknya berbagai partai politik dengan beragam ideologi. Sebelum menerapkan nilai-nilai demokrasi, Brazil berada dalam kekuasaan rezim militer yang dimulai pada tahun 1964 dan berkuasa selama sekitar dua puluh tahun (1964-1985). Jatuhnya rezim militer membawa Brazil pada masa transisi yang didominasi oleh ideologi kiri. Rezim militer Brazil dibawah pimpinan João Figueiredo jatuh pada tahun 1985, dan dimenangkan oleh Tacrendo Neves yang kemudian meninggal sebelum dilantik dan digantikan oleh Jose Sarney. Jose Sarney merupakan presiden pertama berideologi kiri setelah berakhirnya rezim militer.

Dua puluh tahun berlalu sejak kemunculan pertama partai beraliran kiri di Brazil. Sekarang Brazil berada dibawah pemimpin beraliran kiri-tengah, yaitu Luiz Inacio Lula da Silva, yang juga berasal dari partai beraliran far-left, Workers Party atau Partido dos Trabalhadores (PT). Sosok Lula yang sangat populer dikalangan rakyat Brazil membawa dampak signifikan terhadap masa depan partai ini. Kecenderungan sikap politik Lula dan pendekatan yang ia gunakan dalam menghadapi beberapa isu tertentu, ternyata berpengaruh kepada fenomena terjadinya pergeseran ideologi Workers Party ini.
Kecenderungan pergeseran ideologi tersebut mendapat respon yang beragam, terlebih dari internal partai. Kelompok yang menganggap konsistensi ideologi partai sangat penting, berpendapat bahwa pergeseran ideologi ini dapat menciderai tujuan dan prinsip partai. Kelompok yang tidak setuju dengan fenomena pergeseran ideologi ini, sampai pada puncaknya – saat diselenggarakan ’World Social Forum’ di Porto Alegre pada 30 Januari 2005, mengeluarkan sebuah manifesto mengenai sikap penolakan mereka. Melihat adanya fenomena pro-kontra mengenai pergeseran ideologi tersebut, dalam makalah ini kami mencoba menganalisis tentang apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan adanya fenomena atau usulan pergeseran ideologi Workers Party ini.

B. Rumusan Masalah
Kecenderungan pergeseran ideologi partai politik di suatu negara selalu dilatarbelakangi oleh faktor-faktor, baik internal maupun eksternal. Dengan asumsi tersebut, maka masalah yang penting dan menarik untuk dibahas adalah apakah faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan pergeseran ideologi politik Worker’s Party (Partido dos Trabalhadores) pada masa pemerintahan Lula da Silva?
C. Landasan Teori
Landasan teori yang akan digunakan dalam menganalisis masalah diatas yaitu :
Fenomena Pink Tide
Pragmatisme
Sistem Kepartaian
Ideologi Partai

Fenomena ‘Pink Tide’
Istilah ’Pink Tide’ secara harfiah dimaknai sebagai kombinasi antara warna merah dan putih, merah yang melambangkan sosialisme dipadukan dengan putih yang melambangkan kapitalisme. Sehingga perpaduan keduanya menjadi warna baru yang diartikan sebagai perubahan yang ada dalam sistem politik-ekonomi negara-negara di Amerika Selatan. Fenomena ini banyak terjadi di Amerika Selatan yang mayoritas arah ideologi mereka adalah konservatif dan dalam upaya untuk membangun negaranya dan mengutamakan kesejahteraan, banyak partai politik yang mengubah ideologi partainya menjadi lebih moderat atau kiri-tengah.
Pragmatisme
Pragmatisme merupakan teori yang menjelaskan bahwa dalam pengambilan tindakan dan penentuan sikap kebijakan atau politik luar negeri senantiasa berorientasi pada manfaat, dan diikuti oleh sikap praktis (mengharapkan hasil yang memuaskan), relatif (inkosisten dalam berhubungan dengan negara lain karena dilandasi oleh kepentingan tertentu), dan juga selektif. Teori ini juga mengutamakan manfaat dan juga kepentingan pribadi. Seorang pemimpin yang dikatakan pragmatis antara lain jika: mengabaikan moralitas, praktis, oportunistik, pandai membaca situasi, fleksibel, pandai bernegosiasi, menghindari keputusan ekstrem, dan menganggap segalanya memungkinkan.[ Mindrop,Albertine.2006. Pragmatisme-Sikap Hidup dan prinsip Politik Luar Negeri Amerika.Jakarta:Buku Obor]

Sistem Kepartaian
Maurice Duverger mengklasifikasikan sistem kepartaian kedalam tiga kategori, yaitu sistem partai tunggal, sistem dwi partai dan sistem multi partai.[ Duverger, Maurice. (1954). Political Parties. London: Methuen and Co.Ltd.] Dalam konteks sistem politik di Brazil, negara ini menggunakan sistem multi partai. Sistem ini melihat bahwa pola multi partai lebih merepresentasikan pluralitas budaya dan politik suatu negara. Sistem ini lebih menitik beratkan kekuasaan pada badan legislatif dan membuat partai politik kecil memilih untuk membentuk koalisi agar memiliki perimbangan kekuatan dengan partai besar. Sistem multi partai memiliki mekanisme proportional representation dalam pemilihan umum, sehingga setiap partai dapat memiliki kesempatan untuk bersaing secara sehat dan memperbesar peluang untuk mendapatkan kursi di parlemen.

Ideologi Partai
Konservatif
Konservatif merupakan ideologi partai yang mendukung falsafah dan ideologi-ideologi tradisional. Dimana dalam spesktrum ideologi partai Ideologi partai Konservatif merupakan ideologi partai yang condong ke arah spektrum ideologi partai kanan.
Liberal
Ideologi partai Liberal merupakan ideologi partai yang merupakan suatu paham yang berlandaskan asas kebebasan yang memberikan kehormatan tertinggi pada manusia. Menurut pandangan ini, pemerintah memang penting, tetapi tidak alamiah karena otoritas pemerintah bersifat konvensional.[ Mindrop,Albertine.2006. Pragmatisme-Sikap Hidup dan prinsip Politik Luar Negeri Amerika.Jakarta:Buku Obor
]

Tengah
Pada posisi spektrum ideologi partai tengah, merupakan ideologi partai yang tercipta karena adanya basis kepentingan jumlah suara. Dimana partai memiliki basis ideologi yang kabur berada di antara sayap kiri dan kanan agar mampu menjangkau banyak pemilih dari bermacam kelompok-kelompok tertentu tanpa adanya ikatan politik yang kuat terhadap salah satu kelompok masyarakat.
Sosialis
Istilah sosialisme secara etimologi berasal dari bahasa Perancis yaitu kemasyarakatan. Dimana pada prinsipnya, menekankan pada masyarakat tanpa kelas. Sosialisme merupakan suatu keyakinan yang dianggap benar mengenai tatanan politik yang mencita-citakan terwujudnya kesejahteraan masyarakat secara merata melalui jalan evolusi, persuasi, konstitusional-parlementer dan tanpa kekerasan.
Komunis
Komunisme merupakan sayap radikal dari ideologi sosialis, dimana dalam prakteknya mereka sulit menerima seperti kapitalisme, liberalisme, dan juga demokrasi. Komunisme menginginkan adanya kesejahteraan yang merata dalam wujud sosialis ekstrimis.
D. Hipotesis Awal
Hipotesis awal tulisan ini adalah kecenderungan pergeseran ideologi Workers Party atau Partido dos Trabalhadores (PT) di Brazil di bawah kepemimpinan Lula da Silva disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Pola pergeseran ideologi Partido dos Trabalhadores (PT) bisa diidentifikasi melalui tipologi ideologi partai politik, yakni yang semula far-left menjadi centre-left. Selanjutnya, argumentasi utama tulisan ini menyimpulkan bahwa faktor internal berasal dari pemimpin (Lula da Silva) dan persaingan partai politik dalam pemilihan umum sistem multipartai di Brazil. Faktor internal ini dianalisis dengan konsep pragmatisme. Sementara itu, faktor eksternal dipengaruhi oleh fenomena ’Pink Tide’ yang terjadi di sebagian besar negara Amerika Latin dan membawa pengaruh terhadap perpolitikan di Brazil.

BAB II
PEMBAHASAN

Partido dos Trabalhadores (PT) dalam Sistem Politik Brazil
Partai Partido dos Trabalhadores (PT) didirikan pada tahun 1980, tidak lama setelah pemerintahan rezim militer mengijinkan pembentukan partai politik independen untuk pertama kalinya pasca kudeta tahun 1964. PT berjuang dari luar sistem politik melawan pemerintahan militer diktaktor tahun 1964-1985.[ Rachel Meneguello, PT: A Formação de um Partido, 1979-1982. The Workers’ Party: The Formation of a Party, 1979-1982, São Paulo: Paz e Terra, 1989 in Margaret Keck, The Workers’ Party and Democratization in Brazil (New Haven: Yale University Press, 1992. ] Formasi partai pada awalnya merupakan campuran dari ideologi Marxist yang sangat merah, teologi pembebasan basis aktivis masyarakat Katolik, intelektual moderat, dan kesatuan gerakan para pemimpin sosial. Heterogenitas partai dan formasi “bottom-up” mencatatkan PT sebagai partai terbesar dan ter-organized dalam sejarah kepartaian Amerika Latin.[ Keck, Margaret. 1992. The Workers’ Party and Democratization in Brazil. New Haven: Yale University Press. ]
Kemunculan PT dalam politik kepartaian Brazil dapat dianalisis berdasarkan konsepsi “externally mobilized party” dalam perspektif historical institutionalist. Externally mobilized party didirikan oleh pemimpin yang memperoleh kekuasaan politik tidak melalui okupasi atas kemenangan rezim terdahulu, dan merupakan partai yang mencari basis kekuasaan dalam sistem politik melalui proses mobilisasi dan konstituensi basis massa.[ Martin Shefter, Political Parties and the State: The American Historical Experience (Princeton: Princeton University Press, 1994), 5.] Seringkali partai politik tipe ini mengorientasikan kekuatan melalui pembangunan organisasi jangka panjang daripada melalui maksimalisasi dukungan jangka pendek. Partai politik jenis externally mobilized party pada umumnya dipimpin oleh individu dengan komitmen ideologis kuat, yang tidak mudah terbawa arus menuju catch all party.[ Ibid, p.33. ]
PT sering dideskripsikan sebagai satu-satunya partai di Brazil yang benar-benar terbentuk melalui mobilisasi kelas masyarakat dibandingkan melalui elit politik.[ Scott P. Mainwaring, Rethinking Party Systems in the Third Wave of Democratization: The Case of Brazil (Stanford, Calif.: Stanford University Press, 1999), p. 100.] Meskipun deliberasi PT tidak pernah teridentifikasi secara tegas sebagai partai “left”[ Partido dos Trabalhadores. 1991. O PT e o Marxismo. [The PT and Marxism] São Paulo:Partido dos Trabalhadores.], ideologi PT selalu digambarkan sebagai partai dengan ideologi sosialis,[ Keck, Margaret. 1992. The Workers’ Party and Democratization in Brazil. New Haven: Yale University Press, p. 246. ] yang disertai dengan posisi-posisi radikal. Hal ini ditunjukkan dalam konvensi konstitusional Brazil pada tahun 1988, dimana PT merupakan partai yang mendukung penolakan hutang luar negeri Brazil, mendukung nasionalisasi bank-bank dan perusahaan tambang, serta serangkaian bentuk dukungan reformasi radikal.[ Samuels, David. From Socialism to Social Democracy: Party Organization and The Transformation of the Workers’ Party in Brazil. ] Sebagai bentuk protes masa itu, PT tidak menerima secara utuh “rules of the game”, dan delegasi PT menolak untuk menandatangani rancangan konstitusi.
Dalam perkembangan beberapa tahun setelahnya, PT berkembang sedikit lebih moderat, namun PT tidak secara jelas menunjukkan perubahan radikalismenya serta tidak juga menunjukkan reformasi mendasar dalam prinsip-prinsip kepartaiannya, bahkan pasca kekalahan Lula da Silva dalam pemilu presiden tahun 1989.[ Azevedo, Clóvis Bueno de. 1995. A Estrela Partida ao Meio: Ambigüidades doPensamento Petista. [The Star Split Down the Middle: Ambiguities of PT Thought] São Paulo: Editora Entrelinhas. ] Sebagai contohnya dalam resolusi 8th National Meeting partai tahun 1993, menegasakan bahwa PT merupakan partai dengan karakter “revolutionary & socialist”[ Ibid., p. 209.] yang sangat menentang konspirasi pihak-pihak elit yang men-subversi demokrasi,[ Partido dos Trabalhadores. 1998. Resoluções de Encontros e Congressos: 1979-1998. [Resolutions of Meetings and Congresses, 1979-1998] São Paulo: Partido dos Trabalhadores, p. 545. ] mendukung reformasi agraria dan penundaan hutang luar negeri.[ Ibid,. p. 156] PT pada masa itu menarik kesimpulan bahwa kapitalisme dan kepemilikan privat tidak dapat menciptakan kesejahteraan.[ Ibid,. p. 161] PT menunjukkan komitmennya sebagai partai sosialis yang mengecam kontrol dominan kelas dalam sektor produksi. Dalam resolusi National Meeting tahun 1994, PT menegasakan posisi partai yang anti-monopoli dan anti-imperialis sebagai bagian dari strategi jangka panjang konstruksi kapitalis.

Transformasi Ideologi Partido dos Trabalhadores (PT)
Pasca kekalahan Lula da Silava dalam pemilu tahun 1994, PT mulai melakukan proses perubahan konstruksi pencitraan partai secara perlahan. Hal ini berdasarkan pertimbangan dampak eksternal terhadap pertarungan di dalam negeri, serta pertimbangan atas ambiguitas ideologi politik partai. Pada National Meeting tahun 1997, PT menciptakan resolusi sosialisme sebagai sebuah “revolusi demokratis”, yang lebih melibatkan sisi politis dibandingkan visi ekonomi sebagai “negara demokratis” yang bertujuan untuk menciptakan transparansi negara dan tanggung jawab sosial.[ Partido dos Trabalhadores. 1998. Resoluções de Encontros e Congressos: 1979-1998. [Resolutions of Meetings and Congresses, 1979-1998] São Paulo: Partido dos Trabalhadores, p. 545. ] Moderasi ideologi PT secara jelas terlihat selama kampanye Lula da Silva tahun 2002 yang mengusung platform perbaikan perekonomian Brazil, pasca kekalahan tahun 1994 melawan Fernando Henrique Cardoso. Moderasi dan perubahan platform PT berdampak besar terhadap peningkatan jumlah suara yang diperoleh dan peringkat politik PT. Transformasi PT menjadi partai “catch-all”[ Kirchheimer, Otto, “The Transformation of the Western European Party Systems,” in Joseph LaPalombara and Myron Weiner, eds., Political Parties and Political Development (Princeton: Princeton University Press, 1966.] diiringi dengan komitmen para pengurus partai yang berkomitmen terhadap organisasi yang tidak mementingkan kepentingan karir menjadi awal bagi perkembagan PT menjadi partai besar Brazil.[ Hunter, Wendy, ‘The Normalization of an Anomaly: The Workers’ Party in Brazil’, World Politics, Baltimore, April 2007, Vol. 59, Issue 3, p. 440. ]
Beberapa pengaruh internal dan eksternal menjadi katalisator penting adanya kecenderungan pergeseran ideologi politik PT ini. Pengaruh internal berasal dari pertarungan antarpartai politik dalam sistem multipartai di Brazil dan karakter kepemimpinan Lula da Silva. Sementara pengaruh eksternal berasal dari situasi kawasan Amerika Latin yang membawa pengaruh besar terhadap orientasi kebijakan Lula, sebagai salah satu pemimpin centre-left paling berpengaruh di Amerika Latin.
Pada bagian analisis yang lebih mendalam, berikut ini paparan beberapa faktor yang diyakini mempunyai pengaruh yang besar terhadap kecenderungan perubahan ideologi Workers Party tersebut. Dimana terbagi menjadi dua, antara lain faktor eksternal, yaitu mengenai fenomena Pink-Tide yang berkembang di sebagian besar kawasan Amerika Latin, dan faktor internal yaitu kemenangan Lula da Silva pada kedua masa pemilu Brazil (tahun 2002 dan 2006), yang mendapat pendaruh besar dari begitu besarnya sosok Lula da Silva beserta kebijakan pragmatis-nya.

Faktor Eksternal : Fenomena ’Pink-Tide’
Fenomena ’Pink Tide’ (gelombang merah jambu) berkembang meluas di Amerika Latin tahun 2006. ”Gelombang merah jambu” merupakan analogi yang menjelaskan bahwa kebijakan neoliberalisme yang dahulu menjadi primadona (warna putih) mulai bergeser ke kebijakan berbau sosialis (warna merah). Pengertian ”Gelombang merah jambu” disini adalah mengenai bagaimana menyinergikan kebijakan sosialis yang lebih berpihak kepada rakyat tanpa meninggalkan resep-resep neoliberalisme.
Kemunculan pemimpin-pemimpin negara yang beraliran kiri menandai mulai menggejalanya fenomena Pink Tide di Amerika Latin. Pada awal kemunculannya, pergerakan Pink Tide ini membagi para pemimpin yang baru terpilih dalam pemilu, menjadi dua macam, yaitu para leftist (kiri murni) seperti Hugo Chavez, Evo Morales, Fidel Castro, lalu yang kedua adalah para centre-leftist (kiri-tengah) seperti Lula da Silva, Nestor Kirchner, Michelle Bachelet, Tabare Vasquez, dan Alan Garcia[ A New Politics for America? By Michael Shifter is vice president policy at the International Dialogue and Teaches Latin America politics at Georgetown University, Washington D.C].
Setelah terpilih menjadi kepala negara, pemimpin ini memfokuskan pada kebijakan-kebijakan sosialis yang berkonsentrasi kepada kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan. Salah satu bentuk nyatanya adalah mereka berusaha untuk mengontrol obyek-obyek vital negara, seperti masalah energi dan keuangan untuk selanjutnya menempatkan negara pada porsi terbesar dalam mengontrol beberapa bidang vital tersebut. Namun, mereka juga memoderasi adanya sistem yang demokratis dan terlaksananya pasar bebas.
Kebijakan negara-negara Amerika Latin yang mengikuti gelombang ’Pink Tide’ memberikan efek domino bagi negara lain di satu kawasan. Ketika pemimpin suatu negara berhasil menerapkan suatu kebijakan, maka negara lain di kawasan tersebut akan merespon dan berusaha mengadaptasi kebijakan tersebut. Implikasinya, sebagian besar pemimpin negara-negara di Amerika Latin saat ini beraliran centre-leftist. Perkembangan selanjutnya, gelombang ’Pink Tide’ menghasilkan pemimpin-pemimpin negara beraliran kiri yang lebih moderat, pragmatis dan populis, seperti yang terjadi di Brazil, Argentina, Uruguay, dan Chili.

Faktor Internal :
Pemilu 2002 dan 2006
Brazil merupakan negara yang menganut sistem multipartai. Pemilu Brazil diikuti oleh banyak partai (belasan). Saat ini terdapat lima belas partai yang masuk ke legislatif di Brazil. Meskipun begitu, tidak terdapat partai yang paling dominan dan kua, sehingga partai-partai Brazil melakukan koalisi, baik ketika Pemilu Presiden maupun pemilu legilatif. Pada tahun 2002, Brazil mengadakan pemilu yang diadakan dalam 2 putaran, yaitu tanggal 6 dan 27 Oktober 2002.
Partai Buruh yang pada saat itu dipimpin oleh Jose Genoino ini memenangkan 91 kursi dari 513 kursi yang diperebutkan. Partai buruh ini lalu berkoalisi dengan Partai Liberal (PL), Partai Mobilisasi Nasional (PMN), Partai Komunis Brazil (PC do B), Brazillian Communist Party (PC) dan Green Party (PV). Mereka semua mencalonkan Lula Da Silva sebagai presiden. Lawannya pada putaran kedua adalah Jose Serra yang dicalonkan oleh Partai Sosial Demokratik Brazil (PSDB), Partai Gerakan Demokratik Brazil (PMDB), Partai Progresif (PP) dan Partai Demokrat (PFL). Menelusuri ideologi yang dibawa pada partai-partai yang berkoalisi mendukung Da Silva sebagai presiden, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar partai menganut ideologi sayap kiri. Sedangkan, partai koalisi pendukung Serra sebagian besar menganut ideologi demokrasi.
Isu yang dibawa oleh Da Silva dalam memenangkan Pemilu adalah isu ekonomi. Salah satu programnya adalah ”Fome Zero” (tidak ada kelaparan) untuk mengurangi kemiskinan penduduk. Program ini antara lain seperti pembuatan waduk di daerah kering di Brazil. Salah satu program utama dari kebijakan Fome Zero bernama “Bolsa Familia”, yaitu pemberian bantuan keuangan bagi keluarga miskin yang berpendapat rendah[ Diunduh dari http://www.fealacindonesia.org/lang-in/indonesia-dan-amerika-latin/hubungan-bilateral/brazil.html pada tanggal 5 Mei 2010 pukul 18.11].
Pada tahun 2006, Brazil kembali mengadakan Pemilu, dengan PMN sebagai peraih kursi terbanyak, yaitu 89 kursi dan Partai Buruh di peringkat kedua dengan 83 kursi. Lula Da Silva kembali dicalonkan menjadi presiden. Partai-partai yang mencalonkannya sama seperti pada pemilu 2002, dengan ditambah Brazil Republican Party (PRB) yang berideologi kiri tengah. Lawannya di putaran kedua adalah Geraldo Ackmin, yang dicalonkan oleh PSDB, PFL, dan Socialist People’s Party (PPS). Kali ini, Lula Da Silva harus menang dalam 2 putaran. Meski tersandung skandal korupsi, kepopulerannya di mata rakyat Brazil tidak kunjung surut. Skandal korupsi yang pernah dilakukan da Silva membuktikan bahwa ada pihak yang sengaja ia bayar $ 781.000 untuk mendapatkan dokumen yang berisi informasi tentang Alckmin dan seorang lawan politik lainnya, yang membuahkan kemenangan bagi Lula di putaran pertama.[ Diunduh dari http://www.forum-politisi.org/arsip/article.php?id=205pada tanggal 5 Mei 2010 pukul 17.57]
Isu ekonomi masih menjadi senjata bagi Lula Da Silva untuk memenangi pemilu. Program-program ekonominya untuk mengurangi kemiskinan dinilai berhasil oleh sejumlah kalangan. Namun, yang paling penting adalah Lula Da Silva dianggap sukses dalam menstabilkan ekonomi Brazil, yang sangat berpengaruh dalam kemenangannya.
Kemenangan Lula da Silva sebagai presiden Brazil yang kedua kalinya diyakini sebagian besar pengamat akibat pergeseran ideologi yang dilakukan oleh partai yang mengusungnya, yaitu Workers Party. Partai yang mulanya berideologikan far-east menjadi kiri-tengah ini berhasil memenangkan pemilu tahun 2006 dengan presentase kemenangan 60,83% suara. Perubahan platform partai yang lebih moderat dan ingin merangkul semua kalangan (catch-all) ternyata membawa keuntungan bagi partai ini. Keberhasilan mereka dalam pemilu, sekaligus mengusung profil Lula yang saat ini sedang menanjak menjadi semacam bukti bahwa kecenderungan pergeseran ideologi PT ini adalah wujud adaptasi lebih lanjut terhadap faktor internal dan eksternal ini.

Sosok Lula da Silva dan Kebijakan Politiknya
Luiz Inácio da Silva, presiden ke-35 Brazil, memimpin Partai Buruh (Partido dos Trabalhadores) pada periode 1980 sampai 1994 dan salah satu pendiri partai tersebut.[ Without Fear of Being Happy: Lula, The Workers Party and Brazil. http://findarticles.com/p/articles/mi_m1132/is_n11_v43/ai_12126917/. Diunduh pada 5 Mei 2010] Masa lalu yang penuh kemiskinan membuat Lula, panggilannya, memutuskan terlibat ke dalam dunia politik dan berpartisipasi dalam Persatuan Buruh. Dalam keterlibatannya dalam kelompok tersebut, Lula mengalami beberapa perseteruan dengan militer, pemerintahan, dan perserikatan perdagangan Brazil sehingga membuat ideologinya beralih menjadi kiri. Lula kemudian memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pergerakan buruh untuk mengakomodir ideologi yang dianutnya. Kiprahnya di dalam pergerakan ini sempat menjadi kontroversi karena Lula dianggap melakukan pemberontakan illegal yang membuatnya dipenjara selama satu tahun. Sekeluarnya dari penjara, Lula menjadi Presiden dari Central Única dos Trabalhadores (CUT), yang nantinya akan berkembang menjadi cikal bakal Partai Buruh.
Pada tahun 1980 ketika Brazil sedang didominasi oleh kekuatan militer di pemerintahannya, Lula membentuk Partai Buruh yang beraliran kiri bersama dengan tokoh intelektual dan akademisi Brazil. Pada tahun 1989, Lula mencalonkan diri menjadi Presiden Brazil mewakili Partai Buruh, namun kurang mendapatkan dukungan dan kepercayaan karena dianggap tidak merepresentasikan dan tidak mengakomodir kepentingan buruh pada masa itu. Di tahun 2004, setelah empat kali pencalonan, Lula Da Silva berhasil menjadi Presiden Brazil dengan persentase suara mutlak yang membuatnya menjadi Presiden dengan tingkat majority votes terbesar sepanjang sejarah.[ Lihat Branford, Sue.Lula and the Workers’ Party in Brazil. 2004. The New Press. Hal. 52]
Banyak terjadi perubahan ideologis dalam diri Lula sepanjang karir perpolitikannya yang sedikit banyak mempengaruhi munculnya kesan pragmatisme dalam kepemimpinan dan idealismenya. Pragmatism terlihat pada orientasi politik luar negerinya dimana Lula melihat dirinya sendiri sebagai negosiator bukan seorang yang berpegang teguh pada ideologi tertentu. Terlebih ketika Lula memutuskan untuk bekerjasama dengan para konservatif dan juga politisi beraliran kanan. Tujuan Lula adalah untuk memoderasi ideologi ke-kiri-annya agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan Brazil yang ideologinya lebih mengarah ke liberal seiring perkembangan waktu. Sebagai presiden yang berasal dari Partai Buruh, hal ini tentu berdampak terhadap ideologi dari Partai Buruh itu sendiri. Perubahan dalam idealisme Lula turut mempengaruhi perubahan dari ideologi far-left menuju ke arah partai yang lebih sosial demokratis.[ New Socialist: From Lula’s PT to a new workers’ party. newsocialist.org/newsite/index.php?id=33. DIunduh pada 5 Mei 2010] Hal ini seakan membuat Partai Buruh terlihat inkonsisten dalam mempertahankan ideologinya.
Walaupun moderasi ideologi ini diterima dengan baik oleh mayoritas masyarakat Brazil, namun hal ini disayangkan oleh para anggota Partai Buruh yang akhirnya membentuk partai lain yang dianggap lebih sosialis dan lebih bisa mengakomodir kepentingan Buruh serta tidak beraliran pragmatis seperti yang terjadi pada Partai Buruh pada saat itu. Partai Buruh dianggap tidak bisa menjadi sebuah instrumen yang mampu mentransformasikan struktur sosial dan politik, namun dianggap hanya mampu bertindak sebagai alat dari status quo berkelanjutan.
Kepragmatisan Lula Da Silva juga dilansir dalam majalah ’The Economist’ edisi 2 Maret 2006. Lula dianggap sebagai seorang negosiator yang pragmatis yang mudah terpengaruh oleh lawan politiknya dan bukan seorang ideologis yang setia dan idealis menganut paham yang dianutnya.[ A Brazilian political boss. http://www.economist.com/displaystory.cfm?story_id=13062220. Diunduh pada 5 Mei 2010] Hal ini terbukti dengan dekatnya ia dengan Hugo Chavez, namun di lain pihak, Lula juga sangat mendukung kebijakan luar negeri dan berkawan baik dengan Presiden George W. Bush, demi kelangsungan hubungannya dengan Amerika Serikat. Selain itu, faktor lainnya yang menarik untuk menganalisis kemenangan Partai Buruh (Partido de Trabalhadores) ini adalah pergeseran ideologinya yang memasukkan nilai-nilai liberal dalam sistem ekonomi namun tetap di bawah payung sosialisme. Hal ini bisa dilihat penolakan penjualan perusahan nasional atau privatisasi sebagai salah satu misi andalan dalam kampanye Lula. Sebagai pribadi yang pragmatis, Lula da Silva beranggapan bahwa untuk memajukan ekonomi Brazil diperlukan mekanisme kerjasama yang berangkat dari kombinasi sosialisme dan liberalisme.
Tranformasi ideologi Partai Buruh terutama dalam aspek ekonomi secara jelas terlihat dalam kebijakan partai pada tahun 2006, pasca kemenangan kedua Lula da Silva dalam pemilu presiden. Lula memang tidak secara terbuka mengatakan dirinya mendukung kebijakan yang diusung oleh Barat (Amerika Serikat, World Bank, dan IMF). Akan tetapi, terdapat beberapa kebijakan yang memaksa Lula harus mengikuti anjuran Barat. Tidak hanya itu, pergeseran pandangan politik Lula, juga terlihat dari para pendukung kunci Lula yang didominasi oleh mereka yang berhaluan kanan dan kanan tengah dan terdapat juga tokoh-tokoh dari konservatif garis keras. Mereka antara lain adalah mantan presiden Jose Jarney dan gembong konservatif yang terkenal karena beraliran garis keras dari Timur Laut Antonio Carlo Magalhaes. Pendukung kritis Lula juga ada yang berasal dari partai liberal yang didominasi kaum Kristen evangelis, yang merupakan 12.5 persen dari jumlah penduduk[ Bello, Walder, ”Brazil diambang era baru dengan kemenangan Lula”, , diakses 5 Mei 2010].
Bukti lainnya adalah keberhasilan Lula dalam memenangkan sektor-sektor kunci dibidang bisnis untuk meyakinkan mereka bahwa ia akan membuka sebuah era baru “pembangunan kapitalis nasional” yang akan melindungi dan mendamaikan kepentingan-kepentingan mereka dengan kepentingan-kepentingan klas bawah[ Ibid.,].

Aliansi antara kapitalis dan kaum pekerja yang direncanakan Lula menimbulkan kekhawatiran para simpatisan partainya. Mereka takut pengaruh kaum buruh yang sangat kuat dipartai ini akan berkurang. Namun, pergeseran pandangan ini ternyata tidak terlalu menimbulkan masalah besar bagi kubu Partai Buruh. Terbukti mereka mampu memenangkan pemilu tahun 2006. Bahkan kelompok petani Brazil, MST (Movimento dos Sem Terra) menjadi aktor penting dalam kemenangan Lula dan partainya pada pemilu 2006. Meskipun menjadi mesin politik utama Lula dan partainya, MST tetap memilih untuk menjadi oposisi dalam pemerintahan Lula. Hal ini tentu berhubungan dengan gaya pemerintahan Lula sekarang yang mulai pemerintahan bergeser dan tenggelam dalam konteks perekonomian imperialis secara integral dengan masih mempraktekkan konsesi-konsesi ekonomi Neo-Liberal yang dinilai MST merugikan rakyat Brazil[ Herdiansyah, Hamzah , ” Belajarlah dari Amerika Latin: Gerakan Sosialisme yang terus membara”, 14 Mei 2008, , diakses pada 5 Mei 2010].
Dengan demikian, dapat disumpulkan bahwa faktor internal adanya pergeseran ideologi Partai Buruh (PT) sangat dipengaruhi oleh pragmatisme Lula. Semakin besar popularitasnya yang didukung dengan keberhasilan pemilu 2002 dan 2006 semakin menguatkan citra baik dan pengaruhnya terhadap kecenderungan pergeseran ideologi politik Workers Party. Fenomena ’Pink Tide’ di Amerika Latin sangat konsekuen dan relevan dengan orientasi politik Brazil di bawah kepemimpinan Lula. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan populis yang dikeluarkannya, terutama yang berkaitan dengan restrukturisasi perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Implikasinya, partai Buruh (PT) sebagai mesin politik Lula juga mengubah platform politiknya cenderung lebih ke tengah (sosialis demokratis). Pragmatisme Lula dan PT ini sangat beralasan, yakni bertujuan untuk mempertahankan status quo kekuasaan dan menggalang kekuatan massa, terutama menjelang pemilu Oktober 2010 mendatang.
Selama dua periode kepemimpinan Lula da Silva, Brazil sukses membangun negaranya, terutama dalam peningkatan perekonomian. Sebagai bentuk nyata kebijakan ’Pink-Tide’ dapat dilihat bukan hanya dari bagaimana Lula da Silva menerapkan kebijakan-kebijakan sosialis sebagai perwujudan kebijakan “merah” nya, namun lebih daripada itu bagaimana Lula dapat mensinergikan kebijakan “putih” nya sehingga didapatkan makna dari ’Pink-Tide’ itu sendiri. Kolaborasi kebijakan kanan dan kiri ini dimulai Lula pada pemerintahan domestiknya. Kebijakan ekonomi dengan tujuan utama mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi Brazil, Lula menyinergikan keputusannya untuk memilih Menteri Keuangan, Antonio Palocci, yang beraliran sangat kiri. Sementara untuk jabatan Gubernur Bank Sentral Brazil, Lula menunjuk Henrique Meirelles yang berasal dari Partai Sosial Demokrat Brazil yang merupakan seorang ekonomis dan berorientasi kepada pasar bebas. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa dalam pemerintahannya, Lula sangat concern terhadap sektor finansial agar dapat dikontrol penuh oleh negara, tanpa mengingkari kenyataan bahwa Brazil tetap memerlukan pasar bebas demi kemajuan ekonominya.

BAB III
KESIMPULAN
Pergeseran ideologi Workers Party atau Partido dos Trabalhadores (PT) di Brazil di bawah kepemimpinan Lula da Silva (2002-sekarang) disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Pola pergeseran ideologi Partido dos Trabalhadores (PT) yakni yang semula far-left (sosialisme) menjadi centre-left (sosialis-demokratis), disebabkan oleh faktor internal, diantaranya adalah:
Pragmatisme Lula da Silva
Lula yang semula merupakan pemimpin Partido dos Trabalhadores (PT) dengan ideologi sosialisme yang kuat berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi domestik dan pola hubungan internasional Brazil. Lula melakukan restrukturisasi perekonomian dengan perpaduan antara sistem ekonomi sosialisme dan liberalisme. Kebijakan luar negeri Brazil pun cenderung pragmatis. Kesuksesan Lula dalam stabilisasi perekonomian Brazil meningkatkan popularitasnya. Kemenangannya dalam Pemilu 2006 semakin mendorong pragmatisme Lula, terlihat dari kebijakan-kebijakan populismenya. Pertimbangan rasional pragmatisme Lula adalah untuk mempertahankan status quo kekuasaan dan menggalang kekuatan massa, terutama menjelang pemilu Oktober 2010 mendatang.
Persaingan partai politik dalam pemilihan umum
Partido dos Trabalhadores (PT) merupakan partai dengan ideologi sosialisme kuat yang memperjuangkan kesejahteraan buruh. Transformasi PT menjadi partai yang lebih moderat dan “catch-all” sesuai dengan komitmen untuk menjadikan PT sebagai salah satu partai besar di Brazil, terutama dalam persaingan antarpartai politik dalam sistem multipartai di Brazil. Sebagai kendaraan politik Lula dalam pemilu, PT juga sangat terpengaruh dengan pragmatisme Lula da Silva.
Sementara itu, faktor eksternal dipengaruhi oleh fenomena ’Pink Tide’ yang terjadi di Amerika Latin dan membawa pengaruh terhadap perpolitikan di Brazil. Kebijakan negara-negara Amerika Latin yang mengikuti gelombang ’Pink Tide’ memberikan efek domino bagi negara lain di satu kawasan. Gelombang ’Pink Tide’ dan menghasilkan pemimpin-pemimpin negara beraliran kiri yang lebih moderat, pragmatis dan populis, seperti yang terjadi di Brazil, Argentina, Uruguay, dan Chili. Fenomena ’Pink Tide’ di Amerika Latin sangat konsekuen dan relevan dengan orientasi politik Brazil di bawah kepemimpinan Lula.
LAMPIRAN

Hasil Pemilihan Presiden Brazil tahun 2002

Summary of the 6 October and 27 October 2002 Brazil presidential election results
Candidates Votes % 1st round Votes % 2nd round
Luis Inácio Lula da Silva (PT, PL, PC do B, PMN, PCB, PV) 39,436,099 46.4 52,772,475 61.3
José Serra (PSDB, PMDB, PP, PFL) 19,694,843 23.2 33,356,860 38.7
Anthony Garotinho (PSB, PGT, PTC) 15,176,204 17.9 – –
Ciro Gomes (PPS, PDT, PTB) 10,166,324 12.0 – –
José Maria de Almeida (PSTU) 402,236 0.5 – –
Rui Costa Pimenta (PCO) 38,619 0.0 – –
Total (turnout 82.3 and 79.5 %) 84,914,015 100 86,129,335 100
Notes: party of the candidate, supporting parties, unofficial supporting parties
Source: Banco de Dados Eleitorais do Brasil

\\\\

Hasil Pemilihan Presiden Tahun 2006

e • d Summary of the 1 October and 29 October 2006 Brazil presidential election results
Candidates Votes % 1st round Votes % 2nd round
  Luiz Inácio Lula da Silva (PT, PC do B, PRB, PMDB, PL, PSB, PP, PMN) 46,662,365 48.61 58,295,042 60.83
  Geraldo Alckmin (PSDB, PFL, PPS) 39,968,369 41.64 37,543,178 39.17
  Heloísa Helena (P-SOL, PSTU, PCB) 6,575,393 6.85 – –
  Cristovam Buarque (PDT) 2,538,844 2.64 – –
  Ana Maria Rangel (PRP) 126,404 0.13 – –
  José Maria Eymael (PSDC) 63,294 0.07 – –
  Luciano Bivar (PSL) 62,064 0.06 – –
Total (turnout 83.2 and ) 95,996,733 100.00 95,838,220 100.00
Notes: party of the candidate, supporting parties, unofficial supporting parties
Source: Justiça Eleitoral
DAFTAR PUSTAKA

Azevedo, Clóvis Bueno de, 1995, A Estrela Partida ao Meio: Ambigüidades doPensamento Petista, The Star Split Down the Middle: Ambiguities of PT Thought, São Paulo: Editora Entrelinhas.
Downs, Anthony, 1957. “An Economic Theory of Democracy”, New York: Harper and Row,
Duverger, Maurice. 1954. Political Parties. London: Methuen and Co.Ltd.
Hunter, Wendy, 2007, ‘The Normalization of an Anomaly: The Workers’ Party in Brazil’, World Politics Vol. 59, Issue 3, Baltimore,
Keck, Margaret.1992. The Workers’ Party and Democratization in Brazil. New Haven: Yale University Press.
Kirchheimer, Otto, 1966. “The Transformation of the Western European Party Systems,” in Joseph LaPalombara and Myron Weiner, eds., Political Parties and Political Development (Princeton: Princeton University Press.
Meneguello, Rachel, 1989. “PT: A Formação de um Partido, 1979-1982. The Workers’ Party: The Formation of a Party, 1979-1982”, São Paulo: Paz e Terra.
Mindrop,Albertine. 2006. Pragmatisme-Sikap Hidup dan prinsip Politik Luar Negeri Amerika. Jakarta:Buku Obor
Partido dos Trabalhadores. , 1991, O PT e o Marxismo. [The PT and Marxism] São Paulo:Partido dos Trabalhadores.
______________________. 1998, Resoluções de Encontros e Congressos: 1979-1998. [Resolutions of Meetings and Congresses, 1979-1998] São Paulo: Partido dos Trabalhadores.
Samuels, David. 2004. From Socialism to Social Democracy: Party Organization and The Transformation of the Workers’ Party in Brazil. Minnesota : University of Minnesota
Scott P. Mainwaring, 1998. “Rethinking Party Systems in the Third Wave of Democratization: The Case of Brazil”, Stanford, Calif.: Stanford University Press.
Shefter, Martin, 1994. Political Parties and the State: The American Historical Experience, Princeton: Princeton University Press.
Internet

Bello, Walder, ”Brazil diambang era baru dengan kemenangan Lula”, , diakses 5 Mei 2010
Herdiansyah, Hamzah , ” Belajarlah dari Amerika Latin: Gerakan Sosialisme yang terus membara”, 14 Mei 2008, , diakses pada 5 Mei 2010
http://www.hudson.org/index.cfm?fuseaction=publication_details&id=3177&pubType=HI_Opeds
http://en.mercopress.com/2009/11/26/obama-and-lula-da-silva-have-differences-in-crucial-issues-of-the-global-ag
Paulo Roberto de Almeida disampaikan dalam seminar Brazil – Between Regionalism and Globalism : Old Ambitions, New Results? Mengenai Two Foreign Policies From Cardoso to Lula.
Oxford Analytica. Subject : The Latin American Strategy at the April 2 G-20 Leaders’ Summit in London.
http://www.hudson.org/index.cfm?fuseaction=publication_details&id=3177&pubType=HI_Opeds
Working Paper : The Political Economy of Reform in Latin America by Deepak Lal
Reviews : Playing Nostradamus with Latin America by Rodrigo Taborda
Working Paper : The Political Economy of Stabilization in Brazil by Deepak Lal
Vargas, Robert.The Pink Tide : Socialism Sweeping Across Latin America.
Essay : Latin America’s Pink Tide by Aijaz Ahmad
A New Politics for America? By Michael Shifter is vice president policy at the International Dialogue and Teaches Latin America politics at Georgetown University, Washington D.C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s