TIPS MEMILIH BAKALAN KECIAL KUNING

gambaran umum tentang cara mencari kecial kuning yang bagus dan cepat gacor atau ngoceh atau ngejos, diantaranya:

– Pilih burung yang sehat dan agresif
– Pilih warna bulunya yang cerah tidak kusam
– Pilih Paruh yang agak tebal dan panjang
– Pilih Postur tubuh burung yang proposional tidak kecil akan tetapi cukup bagus
– Pilih burung yang ekornya yang mengumpul jadi satu tidak menyebar
– Dan Pilih alis berwarna putih yang tebal

Dan secara umum membedakan kecial kuning Jantan dan Betina diantaranya secara umum adalah :

kecial kuning Jantan, ciri – cirinya secara umum ialah:
Continue reading “TIPS MEMILIH BAKALAN KECIAL KUNING”

contoh proposal penelitian pertanian

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cabai atau lombok (bahasa Jawa) adalah sayuran buah semusim yang termasuk dalam anggota genus Capsicum yang banyak diperlukan oleh masyarakat sebagai penyedap rasa masakan (Sunaryono, 2003). Salah satu tanaman cabai yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah tanaman cabai merah. Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat. Ciri dari jenis sayuran ini adalah rasanya yang pedas dan aromanya yang khas, sehingga bagi orang-orang tertentu dapat membangkitkan selera makan. Karena merupakan sayuran yang dikonsumsi setiap saat, maka cabai akan terus dibutuhkan dengan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional (Setiawati, 2005).

Cabai merah mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia. Kandungan vitamin dalam cabe adalah A dan C serta mengandung minyak atsiri, yang rasanya pedas dan memberikan kehangatan bila kita gunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Sun et al. (2000). melaporkan cabai merah mengandung anti oksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari radikal bebas. Radikal bebas yaitu suatu keadaan dimana suatu molekul kehilangan atau kekeurangan elektron, sehingga elektron tersebut menjadi tidak stabil dan selalu berusaha mengambil elektron dari sel-sel tubuh kita yang lainnya. Kandungan terbesar anti oksidan dalam cabai terdapat pada cabai hijau. Cabai juga mengandung Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker (Kilham 2006; Bano & Sivaramakrishnan 1980).

Cabai merah (Capsicum annum L.) banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia selain karena manfaatnya bagi kesehatan juga karena cabai merah memiliki harga jual yang cukup tinggi. Purwanto (2007), menyatakan bahwa cabai menempati urutan paling atas diantara delapan belas jenis sayuran komersial yang dibudidayakan di Indonesia selama beberapa tahun teakhir ini. Oleh karena itu permintaan cabai merah cenderung meningkat tiap tahunnya. Gani (2011) mengatakan bahwa, berdasarkan pemantauan harga disejumlah pasar terhadap komoditas cabai. Harga cabai merah keriting naik 25 persen dari Rp 40.000/kg menjadi Rp 50.000/kg, cabai merah besar naik 50 persen dari Rp 40.000/kg kini menjadi Rp 60.000/kg. Hal yang sama juga berlaku untuk cabai rawit yang naik 33 persen dari semula Rp 60.000/kg menjadi Rp 80.000/kg. Permintaan akan cabai yang meningkat dari waktu kewaktu ini menyebabkan cabai dapat diandalkan sebagai komoditas ekspor nonmigas. Hal ini terbukti dari enam besar komoditas sayuran segar yang diekspor (seperti bawang merah, tomat, kentang, kubis dan wortel) cabai termasuk salah satunya (Prajananta, 2007).

Menurut data statistik Indonesia tahun 2009, luas panen, produksi dan hasil perhektar cabai besar NTB adalah 8,08 ton/ha, masih jauh di atas Bali yang hasil panen perhektaranya 11,55 ton/ha. Namun jika kita bandingkan dengan hasil panen perhektar cabai merah NTT yang jumlahnya sebesar 5,87 ton/ha, maka produksi cabai merah NTB masih jauh lebih besar. Begitupun jika kita bandingkan dengan pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang rata-rata hasil panen perhektarnya sebesar 6,03 ton/ha, 7,56 ton/ha, 5,19 ton/ha, 4,00 ton ha dan 4,57 ton/ha, maka hasil produksi tanaman cabai besar NTB masih jauh lebih tinggi (BPS-Indonesia, 2010).

Data statistik produksi tanaman cabai provinsi NTB pada tahun 2007 adalah sebesar 2.676 ton/ha dengan luas areal panen sebesar 446 ha (BPS, 2007). Jika dibandingkan dengan data hasil sensus Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat tahun 2003-2006 tentang produksi tanaman cabai NTB dengan luas areal tanam dimana pada tahun 2003 adalah sebesar 488 ha meningkat menjadi 810 ha pada tahun 2004. Pada tahun 2005 luas areal tanaman menurun menjadi 549 ha sampai pada tahun 2006 menurun lagi menjadi 455 ha ( BPS, 2007). Produksi tanaman cabai merah berturut-turut adalah sebesar 2.179 ton pada tahun 2003 meningkat menjadi 3.904 ton pada tahun 2004. Kemudian pada tahun 2005 produksinya menurun sebesar 1.867 ton dan pada tahun 2006 produksinya menurun menjadi 1.825 ton (BPS 2007). Data diatas menununjukkan bahwa produksi tanaman cabai mengalami penurunan dari tiap tahunnya. Penurunan produksi ini disebabkan karena semakin berkurangnya luas areal tanam cabai merah. Dengan semakin sempitnya luas areal tanam cabai ini menujukkan bawa peluang bisnis tanaman cabai merah meimilki prospek karena suplai dari tahun ke tahun belum mencukupi (Bakarauddin, 2011).

Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) diantaranya: teknis budidaya, kekahatan hara dalam tanah, serangan hama dan penyakit. Maka dari itu perlu dukungan teknologi budidaya intensif baik itu terkait dengan pemupukan, proses pengolahan lahan, pemeliharaan, maupun penerapan-penerapan teknologi tepat guna sederhana dalam membudidayakannya (Prabowo, 2011). Pemberian unsur hara yang tepat sesuai dengan kebutuhan, waktu tanam dan penempatan hara pada daerah serapan akar juga menjadi pendukung dalam keberhasilan budidaya tanaman cabai. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi cabai besar sekaligus menanggulangi bayaknya permintaan masyarakat tersebut adalah dengan manajemen pemupukan yang menjadi bagian dari intensifikasi pertanian (Suriyadikarta, 2006).

Pemupukan merupakan tindakan yang bertujuan untuk menambah unsur hara yang sudah berada dalam tanah, memberikan unsur hara yang memang belum tersedia dalam tanah dan mengganti unsur hara yang diangkut oleh tanaman melalui panen. Sedangkan bahan penyubur tanaman yang ditambahkan kedalam tanah atau diberikan langsung kepada tanaman melalui penyemprotan pada permukaan daun disebut dengan pupuk (Mulyati dan Lolita, 2010). Sejarah mencatat bahwa penggunaan pupuk kimia meningkatkan produksi pertanian karena terbukti mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia yang terus meningkat populasinya. Namun akibat penggunaan pupuk kimia yang terus menerus tersebut dapat mengganggu keseimbangan kimia tanah sehingga produktifitas tanah menurun (Soleh, 2011).

Pemakain pupuk kimia secara terus menerus menyebabkan terjadinya residu yang berlebihan dalam tanah. Tumpukan residu pupuk ini dalam tanah akan menjadi racun tanah yang mengakibatkan tanah menjadi sakit. Pada tanah yang sakit ini akan terjadi degradasi mikrobia pengendali keseimbangan kesuburan tanah, ketidak seimbangan hara, dan munculnya mutan-mutan hama dan penyakit tanaman. Menurut Go Ban Hong (1998), berbagai upaya program intensifikasi pada lahan sawah tidak lagi memberikan kontribusi pada peningkatan produktifitas lahan karena telah mencapai titik jenuh (Leveling Off) tetapi sebaliknya produktifitas lahan justru cenderung menurun. Disamping itu juga penggunaan pupuk sebagai salah satu sumber nutrisi tanaman apabila diberikan secara tidak bijaksana dapat menyebabkan penurunan kualitas dan produksi tanaman, dapat menimbulkan pencermaran lingkungan hidup dan dapat menurunkan ketahanan alami tanaman melawan gangguan lingkungan, hama dan penyakit.

Dampak dari Leveling off ini terjadi salah satunya pada penurunan produksi tanaman cabai merah. Hal ini terbukti dari penurunan kadar total karbon (C) dan pemadatan atau pengerasan lapisan olah tanah dibeberapa sentra produksi cabai di Indonesia. Di Berebes, Jawa Tengah, dosis penggunaan pupuk buatan tanaman cabai merah ditingkat petani adalah sangat tinggi, yakni 320 kg Urea, 150 kg KCL, 686 kg CaO, 123 kg MgO, dan 919kg S/ha. Jumlah pemakain pupuk ini sangat jauh melebihi dosis pupuk berimbang yang direkomendasikan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), yaitu 200 kg N, 150 kg P205 dan 100 K2O/ha (Martodireso, 2011). Widadi (2011) Juga mengungkapkan bahwa dampak lain dari penggunaan pupuk buatan pada dosis yang sangat tinggi adalah terjadinya penumpukan (Akumulasi) beberapa logam berat dan nitrat pada produk sayuran cabai merah. Karena pemakaian pupuk buatan yang berlebihan sangat berbahaya maka aplikasi pupuk organik dan pupuk alam menjadi alternatif dalam mengemabangkan pertanian yang ramah lingkungan.

Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan atau manusia seperti pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos baik yang berbentuk cair maupun padat. Pupuk organik bersifat bulky dengan kandungan hara makro dan mikro rendah sehingga perlu diberikan dalam jumlah banyak. Manfaat utama pupuk organik adalah dapat memperbaiki kesuburan kimia, fisik dan biologis tanah, selain sebagai sumber hara bagi tanaman. Secara lebih spesifik keuntungan dari penggunaan pupuk organik antara lain: memperbaiki struktur tanah, sumber unsur hara bagi tanaman, menambah kandungan humus tanah, meningkatkan aktifitas jasad renik, meningkatkan kapasitas menahan air (water holding capacity), mengurangi erosi dan pencucian nitrogen terlarut, meningkatkan kapasitas tukar kation dalam tanah (Deviana, 2000), meningkatkan daya sangga (buffering capasity) terhadap perubahan drastis sifat tanah, meningkatkan kerja mikrobia tanah dalam proses dekomposisi bahan organik. Suriadikarta (2006) menambahkan bahwa pupuk organic akan membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti Al, Fe, dan Mn.
Continue reading “contoh proposal penelitian pertanian”

POSE JALAN JALAN

Tepatnya hari selasa aku jalan|jalan mengunjungi setiap posko KKN UNRAM periode I, mumpung lagi kosong dan di mataram yah aku sempatin untuk jalan|jalan…
aku bersama temanku arif budiyanto dan febrian amrillah memulai perjalanan ke Lombok Utara, kami bertiga memulai perjalanan dengan jalan yang penuh dengan liku dan terjal. tepatnya kami melewati bukit posok,

jalan raya posok
jalan raya posok perjalanan ke Lombok Utara

 

KKN PEMENANG TIMUR 2012
KKN PEMENANG TIMUR 2012

 

KKN UNRAM 2012 TANJUNG
KKN UNRAM 2012 TANJUNG

 

desa jenggala , KLU
desa jenggala , KLU

KKN NRAM 2012 DESA BETEK, KLU, NTB
KKN NRAM 2012 DESA BETEK, KLU, NTB

Continue reading “POSE JALAN JALAN”