Hujan Terakhir Pada Bulan Desember

Mencoba menulis kembali puisi yang sudah lama tidak ditulis, mencoba mengilhami beberapa kejadian Bulan Desember, saat aku sekolah dasar dahulu aku gemar membuat puisi, kumpulan puisi yang disimpan sampai saat ini pada almari di sebuah rumah kecilku. Tanah kelahiranku, Praya. Beberapa hari yang lalu tanahku sudah dinodai oleh kasus korupsi yang dilakukan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Praya. Tanahku terkenal bak primadona di tengah gersang dan tandusnya. Sedikit terusik namun kenyataan, sedikit tersinggung tapi apa daya, itu adanya. Tidak salah orang berkomentar berbagai macam bahwa korupsi harus dibumihanguskan sampai pada hal yang terkecil. Sungguh miris mendengarnya, orang berbicara tapi melakukan suap!! Setiap perempatan jalan selalu ada pos polisi, berapa banyak orang yang melakukan suap di pos tersebut karena ditilang!! Sungguh miris mendengarnya. Apa jadinya negara ini dengan orang yang hanya pandai berbicara tapi tidak bisa mempraktekkan?? Sungguh miris mendengarnya.

Hujan Terakhir Pada Bulan Desember

satu tetes,

dua tetes,

tiga tetes,

Sampai satu gumpalan air,

engkau boleh saja membasahi bumi kami,

tapi satu hal yang kau ingat,

keringat kami tidak ingin kau campur dengan airmu,

Keringat ini keringat pengorbanan kami,

tidak didapat walaupun dengan harga mahal sekalipun,

perjuangan kami tulus untuk negara ini,

meneruskan guru bangsa.

Advertisements

Pelangi Pertamaku di Yogyakarta

Hari itu tanggal 5 Desember 2013, perjalanan kereta api senja yang mengantarkan aku dari stasiun lempuyangan menuju stasiun jakarta kota. Aku memulai perjalanan pukul 5 petang. Cuaca jogja saat itu tidak begitu cerah, mendung. Akan tetapi saat perjalanan dari tempat tinggalku sampai pada stasiun tidak turun hujan. Kondisi stasiun yang ramai dengan penumpang dengan tujuan yang berbeda satu sama lainnya.

Setelah menunggu kereta beberapa menit saja, kereta api tujuan jakarta kota tiba, aku tidak tau mengapa kereta ini begitu ramai dibandingkan dengan kereta sebelumnya yang membawa penumpang hingga tujuan akhir stasiun senen. Yah, hal tersebut tidak terlalu aku perhatikan, mungkin karena mereka punya alasan tersendiri untuk menaiki kereta ini dalam pikiranku. Begitu ramai. Karena memang ini kereta ekonomi. 🙂 Sejak dulu aku selalu senang dengan angkutan murah karena yang menaikinya adalah masyarakat menengah ke bawah sehingga keakraban cepat terjalin dan tidak terjadi sifat individual antar sesama penumpang.

Salah satu kewajiban Negara Indonesia adalah mengadakan angkuta murah bagi Warga Negaranya. Bayangkan saja, aku pulang kampung dengan bermodalkan 120 ribu saja sudah bisa menikmati perjalanan jogja-lombok walaupun perjalanan darat yang cukup melelahkan dengan 4-6 jam berada di lautan. Tapi hal tersebut dinikmati sebagai angkutan yang murah bagi rakyat.  😀 🙂 🙂

=====================================beberapa menit kemudian==========================

Seberkas cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu nampak pada pandanganku. walaupun seberkas sinar tersebut tidak begitu jelas akan tetapi itu adalah momen terindah yang aku rasakan saat berada di yogyakarta yakni menikmati pelangi senja hari di atas kereta. Hari semakin larut, dan pelangi yang aku liat juga semakin tidak karuan warnanya. Kesempatan yang sangat indah yang tidak didapatkan pada waktu yang lain. ^^

 

Gerbong-gerbong tua menembus batas angin.

Seberkas Cahaya tampak di jendelanya,

Tersirat makna akan keindahan alam ini,

Begitu indah sampai larut dalam mega merah,

ingin aku merasakan lebih lama cahaya indah itu,

cahaya yang berpadu menjadi satu untuk menyampaikan salam pada makhluknya.

Merah……

Jingga…..

Kuning….

Hijau……

Biru……..

Nila……….

Ungu……..

 

Yogyakarta, 14 Desember 2013

Fahriza Yusro Hadiyaksa