Hujan Terakhir Pada Bulan Desember

Mencoba menulis kembali puisi yang sudah lama tidak ditulis, mencoba mengilhami beberapa kejadian Bulan Desember, saat aku sekolah dasar dahulu aku gemar membuat puisi, kumpulan puisi yang disimpan sampai saat ini pada almari di sebuah rumah kecilku. Tanah kelahiranku, Praya. Beberapa hari yang lalu tanahku sudah dinodai oleh kasus korupsi yang dilakukan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Praya. Tanahku terkenal bak primadona di tengah gersang dan tandusnya. Sedikit terusik namun kenyataan, sedikit tersinggung tapi apa daya, itu adanya. Tidak salah orang berkomentar berbagai macam bahwa korupsi harus dibumihanguskan sampai pada hal yang terkecil. Sungguh miris mendengarnya, orang berbicara tapi melakukan suap!! Setiap perempatan jalan selalu ada pos polisi, berapa banyak orang yang melakukan suap di pos tersebut karena ditilang!! Sungguh miris mendengarnya. Apa jadinya negara ini dengan orang yang hanya pandai berbicara tapi tidak bisa mempraktekkan?? Sungguh miris mendengarnya.

Hujan Terakhir Pada Bulan Desember

satu tetes,

dua tetes,

tiga tetes,

Sampai satu gumpalan air,

engkau boleh saja membasahi bumi kami,

tapi satu hal yang kau ingat,

keringat kami tidak ingin kau campur dengan airmu,

Keringat ini keringat pengorbanan kami,

tidak didapat walaupun dengan harga mahal sekalipun,

perjuangan kami tulus untuk negara ini,

meneruskan guru bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s