Demokrasi Untuk Media

Ketika mendapatkan mata kuliah hukum konstitusi yang diajarkan oleh Prof Denny Indrayana, saya menjadi lebih yakin teori yang dibangun oleh beliau. Saat itu beliau dengan terang dan jelas telah mengajarkan hal tersebut tanpa harus disaring-saring seperti yang terdapat di dalam media elektronik ataupun media cetak. Ketika banyak yang menyalahkan SBY sebagai presiden pada tahun lalu karena dianggap lamban, tidak tegas, atau bahkan yang lebih buruk daripada itu, Prof. denny yang selalu berada di samping beliau dan mengetahui sifat dan sikap asli dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahwa kenyataannya bertolak belakang dengan apa yang sudah dicitrakan oleh media massa.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui ketegasannya, di mata beliau keamanan dan ketertiban adalah segala-segalanya dibandingkan dengan sikap marah atau kesal beliau akibat dikatakan oleh media masa bahwa beliau sosok yang tidak tegas, lamban, serta lebih buruk daripada itu sampai-sampai rakyat menghina beliau. Inilah dampak media yang senantiasa mencuci pikiran rakyat. Dalam sebuah pencucian itu SBY tidak terpancing akan hal tersebut dikarenakan sifat santun, sopan, sabar, dan tenggang rasa adalah suatu hal yang mungkin akan selalu dirindukan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Hal inipun mulai dirasakan oleh rakyat Indonesia, sosok seorang SBY mulai dikenang sedikit demi sedikit. Budi luhurnya untuk memajukan Indonesia baik dari segi pendidikan, kesehatan, serta yang terpenting adalah keamanan dan ketertiban di dalam negara. Disadari ataupun tidak untuk mengurusi negara yang luas ini tentulah sulit, karena menyatukan dua orang saja apabila bertengkar begitu sulit apalagi mengurus seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. SBY sebagai presiden yang bertanggung jawab senantiasa dibuktikan dengan penyelesaian konflik yang terjadi di kerajaan Surakarta beberapa waktu lalu, yang diadakan musyawarahnya di Istana negara DIY. Susilo Bambang Yudhoyono yang gemar membaca buku best seller “48 laws of power” serta gemar menyalurkan bakatnya dalam hal menyanyi ini tentu saja memiliki rencana dan strategi yang matang dalam hal menyelesaikan konflik, masalah bangsa, serta tegas dalam artian tidak diketahui oleh media.

Bagi media apabila melihat sisi positif dari seorang pemimpin maka mereka enggan untuk meliputnya. Sikap tegas SBY juga ditunjukkan melalui beberapa surat-surat beliau kepada kepala negara yang senantiasa berani untuk menyentuh Indonesia baik dari segi kedaulatan negara dengan beberapa negara berusaha untuk mencaplok maritim serta pulau terluar yang ada di Indonesia. Mungkin kita semua tidak mengetahui hal tersebut karena dalam hati beliau tidaklah perlu diketahui oleh rakyat, yang terpenting bahwa rakyat bisa makmur, bahagia, aman, dan nyaman.
Banyak jasa SBY dalam hal membangun bangsa ini, akan tetapi kita semua lupa. Begitu juga yang terjadi ketika aku berdebat dengan pamanku dan bibiku sendiri yang senantiasa selalu memperjuangkan PDIP dari dahulu. Aku berusaha membuka tabir ingatan beliau kembali, kita seolah lupa bahwa anak beliau dapat beasiswa bidik misi untuk meneruskan kuliah. Apakah ada beasiswa seperti itu pada masa Megawati yang konon sebagai punggawa PDIP? Kita seolah lupa ketika anak-anak dahulu senantiasa merengek untuk meminta uang SPP kepada orang tua sedangkan sekarang untuk SPP pun tidak dipungut bahkan untuk buku saja gratis. Begitu mahalnya APBN yang telah dikorbankan oleh pemerintahan SBY untuk pendidikan dan kesehatan. Hal itu semua rapi, tanpa adanya kesalahan, kalaupun ada kesalahan sudah ada lembaga untuk melaporkan pelanggarannya melalui lembaga independen, yakni Ombudsman Republik Indonesia. Pada akhir statementku sewaktu berdebat dengan pamanku, aku tidak memilih Prabowo, juga tidak memilih Jokowi, kalaupun SBY mencalonkan kembali dan diperbolehkan oleh konsitusi maka aku masih setia memilih SBY. Sontak aku kaget juga dengan jawaban pamanku yang mengiyakan statementku itu.

Bagi seluruh rakyat Indonesia, mungkin saat ini kalian belum menyadari akan hal tersebut karena bisa jadi kalian melihat dari sisi yang berbeda sehingga tidak bisa melihat dari sisi yang lain. Bisa jadi kalian masih tertidur oleh buaian media sehingga tidak bisa membedakan alam realitas dengan alam propaganda. Ibarat sebuah barang, akan terasa kehilangannya apabila barang tersebut sudah rusak ataupun bahkan hilang. Hal tersebut lambat laun akan dirasakan tentunya.
Sedikit melihat ke depan mengenai presiden tahun 2014 ini, saya mengakui bahwa untuk pertama kalinya saya golput dalam pemilihan ini karena saya tidak suka dengan gaya kepimimpinan kedua calon presiden. Baik Prabowo maupun Joko widodo tidak termasuk dalam kriteria pemimpin di mata saya. Terlihat dari iklim politik 2014 ini, mereka berdua tidak bisa menenangkan pendukungnya sendiri, malah saling hujat menghujat melalui media masa, media sosial, serta kampanye negatif yang dilakukan kedua belah pihak. Tentu ini menggambarkan kondisi mental yang tidak tahan banting dan sejatinya tidak cocok sebagai kepala negara.

Menjadi seorang kepala negara haruslah memiliki semangat tahan banting di alam demokrasi ini, karena mau tidak mau, suka ataupun tidak suka pemimpin mesti disalahkan, dihujat, karena bagaimanapun dia yang pertama kali mempertanggungjawabkan atas apa yang dipimpin.
Saya mungkin menjadi orang yang berdosa karena telah mempengaruhi sejumlah orang untuk golput, tetapi perkara golput ataupun tidak itu adalah hak pribadi sendiri. Siapapun presidennya saya harapkan harus bersikap fair dan berani mengakui program-program keberhasilan SBY sebagai presiden. Sesungguhnya tidak ada itu kartu Indonesia pintar, Kartu Indonesia Sehat, kalau mau dirujuk itu semua hanyalah pemanis saja yang sejatinya konsep Kartu Indonesia Pintar sudah diimplementasikan oleh pemerintahan SBY, cuman namanya saja yang berbeda. Begitu juga dengan pemberian 1 milyar per tahun ke desa-desa. Hal itu juga tetap melalui pemerintahan SBY. Seandainya undang-undang desa tidak disahkan oleh presiden serta partai koalisi yang berada di DPR, maka tentu saja hal tersebut tidak terwujud.

Sebagai akhir kata dari sedikit tulisan mengenai kegundahan hati ini adalah mengingat kembali sang maestro strategi perang walupun sejatinya dia tidak pernah ikut perang sekalipun, yakni Sun Tzu dalam bukunya ‘The art of war” bahwa “The art of war, then, is governed by five constant factors, to be taken into account in one’s deliberations, when seeking to determine the conditions obtaining in the field. These are: (1) The Moral Law; (2) Heaven; (3) Earth; (4) The Commander; (5) Method and discipline. The Moral Law causes the people to be in complete accord with their ruler, so that they will follow him regardless of their lives, undismayed by any danger.” Kata-kata Sun Tzu ini tentu saja perlu untuk direnungkan kembali, karena bagaimanapun strategi perang dengan strategi pemenangan pemilu adalah dua hal yang sama tetapi medan yang berbeda. Salam sukses. Sungguh benar perkataan Rasulullah mengenai strategi ini beberapa ratus tahun yang lalu, dan perlu dipahami sebagai kekuatan yang tidak dapat dibeli oleh uang sekalipun.

Klaten, 14 Juli 2014 Pukul 21:43

FYH

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s