Telepon Dari Jepang

Beberapa waktu lalu aku sempat kaget ketika mendapati telponku bergetar, dan sontak aja nomor yang tertera pada telpon adalah nomor dengan  021000007, aku sempat bingung untuk mengangkat atau membiarkannya saja. Tetapi saat itu aku mengurungkan niat untuk menerima telpon tersebut. Dalam hati kecilku kalau memang penting pasti akan menelpon kembali.

Tidak berselang lama, kembali lagi hapku bergetar. Aku sejak dahulu tidak suka menggunakan nada dering dalam pengaturan handphone, cukup silent atau vibrate saja. Mungkin ini salah satu kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan, akan tetapi tetap saja sejak SMP dulu tidak pernah mengaktifkan nada dering. hehe
Singkat cerita masuk kembali panggilan telepon, kali ini no yang tertera adalah no m3, aku tidak berani membuka pembicaraan terlebih dahulu. Karena dalam hal ini aku yang mnerima bukan yang menelepon. Aku tunggu beberapa saat, dan tidak lama kemudian muncullah suara lembut dibalik handphoneku, mengucapkan salam beberapa kali, aku menjawabnya, lalu setelahnya menanyakan perihal identitasnya.
“ini laila, kamu masih ingat kan?”, dia menjawab
“laila siapa ya? saya tidak ingat.” sambil bergumam dan berfikir siapa orang dibalik ganggang telepon ini.
“laila, teman kamu saat di yogya dahulu.” dia mulai meyakinkan.
“ohh, iya aku ingat. kamu bagaimana kabarnya la?, aku coba-coba mengingat nama laila. Dia sosok penuh ceria dan cerewet tentunya. Kadang sering bertemu saat joging.
” aku alhamdulillah baik, aku sekarang sudah di Jepang” suaranya begitu bahagia.
“wah, aku salut sama kamu, mimpi kamu terwujud juga, selamat la”, aku saat itu senang sekaligus terharu karena aku tahu laila adalh sosok seorang yang gigih. Sempat menghilang beberapa bulan, tiba-tiba dia sudah berada di Jepang, negeri sakura.
Siang itu, obrolan kami ngalur ngidul sampai membahas politik yang terjadi di dalam negeri.
“tiga tahun lagi aku pulang ke Indonesia, za” ujar laila
“kok lama sekali, kamu tidak kangen dengan keluarga, serta dengan kondisi di Indonesia, disana kamu sebagai minoritas, makanan juga harus dijaga, begitu juga kondisi tubuh yang senantiasa harus menyesuaikan.” ujarku sambil sedih.
“aku kuat, insya Allah kuat. Aku sudah tekad akan pergi ke Jepang. Kamu tau tidak za, disini puasanya lama banget, dari jam 4 pagi sampai jam setengah delapan. Kamu bisa bayangkan kan? Pada waktu aku datang ke Jepang rekan-rekanku yang dari Jepang langsung mengadakan party untuk kami” menjelaskan dengan detail.
” kuatkan niatmu itu, waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dihadapi. Kamu sudah tahu keadaan disana, besok-besok  kamu jadi pembuat dan  penjual tempe tahu saja disana, biar pulang ke Indonesia jadi pengusaha terkenal” ujarku meledeknya sambil tertawa.
“Ah, kamu itu sukanya yang aneh-aneh.” sambil ikut tertawa juga.

Sebuah pelajaran berharga bahwa tidak ada batasan untuk pergi ke luar negeri. Karena siapapun dapat ke luar tanpa diduga-duga, rezeki senantiasa Allah berikan pada jalan yang tidak terduga-duga. Sebagai akhir kata, semoga aku bisa berjalan-jalan dan menggali ilmu di Inggris sana, bertemu dengan klub sepak bola idolaku yakni Liverpool, serta dapat berkeliling di eropa. Entah kapan tapi aku yakin bisa pergi kesana, seperti mimpi seorang laila yang ke Jepang.

Klaten, 19 Juli 2014

FYH

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s