Kenangan di Negeri Orang

Ada cerita menarik pagi ini. Saya menyalin catatan harian saya ke dalam blog ini, karena saya anggap hal ini menarik untuk dibagi.

Tepat tanggal 15 April 2014 saya tiba di Madinah, yang disebutkan di dalam Alqur’an. Madinah, salah kota indah yang pernah saya lihat. Tata kota yang bagus dan kondisi taman yang terawat serta bersih, persis seperti keadaan di eropa sana.
Malam itu aku tiba disana setelah melewati 5 jam perjalanan dari Jeddah. Tiba disana sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Check in hotel dan beres-beres, setelah itu kumpul di Masjid Nabawi. Kesan pertama saat itu adalah air mataku tumpah ruah, betapa jauhnya aku berjalan untuk bisa melihat kondisi Masjid yang dikatakan apabila beribadah di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya sebanyak 1000 kali. Disini dapat dilihat jelas bahwa orang-orang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, saya juga lebih tahu lagi karakter orang Arab yang keras bisa dilihat disini juga. Mungkin nanti saya akan ceritakan pada bagian selanjutnya.

Setelah pukul 21.00, saya kembali lagi ke penginapan. Istirahat lebih pagi untuk bisa tahajjud di raudlah. Ya, paginya bangun pukul 02.30 pagi dan segera siap2 untuk beribadah. Pukul 03.00 tiba di masjid Nabawi, hal pertama yang saya lihat bahwa begitu berlimpah ruahnya manusia di dalam Masjid ini, tidak sama kondisinya dengan tanah air. Saya tidak bisa memasuki raudlah karena sudah penuh saat itu. Alhasil cuman bisa shalat di karpet merah dekat dengan keluarga raja. Disini terdapat tempat khusus untuk keluarga raja, dekat dengan tempat imam solat. Perlu diketahui bahwa raudlah adalah tempat yang diberi karpet hijau. Di Madinah, tempat yang doanya dikabulkan di Raudlah, kalau di Mekkah di Multazam.

Ada satu hal yang perlu diketahui bahwa saat di Madinah, dari menunggu waktu adzan saya tidak terkantuk. Tetapi saat menunggu waktu iqomat saya mengantuk, betul-betul ujian yang berat bagiku saat itu, yang membuatku mengantuk bukan karena kurang tidur atau bagaimana tapi memang suasananya tenang, nyaman, sejuk dan hening. Pokoknya membuat otak serasa direlaksasi, seperti alam bawah sadarku meningkat drastis.
Setelah solat shubuh, orang-orang tidak langsung meninggalkan tempat. Ada yang berdzikir, mengaji, dan ada juga yang mengucapkan salam penghormatan kepada Rasulullah melalui pintu baabussalam. Saat itu saya lebih memilih untuk membaca Alqur’an.

BERKENALAN DENGAN PEMUDA GAUL
Saya tidak sendiri membaca Al qur’an, sebelah saya terdapat seorang pemuda kayak zaman sekarang, rambut dipotong mohawk, pakai celana jeans, dan menggunakan kaos yang junkis. Tetapi satu hal yang membuat saya heran, di saku bajunya terdapat lembaran Al Qur’an yang dibacanya. Bacaan dan tajwidnya pun pas. Setelah capek membaca, saya mengajaknya berkenalan. Dari sanalah saya mengetahui bahwa ia adalah seorang mahasiswa Al Azhar, Kairo, Mesir. Sekarang sedang tingkat empat. Dia juga aktif dalam organisasi ikhwanul muslimin, yang digagas oleh Hasan Al-Banna. Dia memperkenalkan saya dengan teman-temannya saat itu. Berkenalan dengannya membuat saya menjadi tahu bahwa tidak setiap kulit durian yang tajam menghasilkan isi yang jelek. Siapa sangka seorang pemuda gaul membawa Alqur’an dalam saku bajunya. Siapa sangka dia begitu bagus melantunkan bacaan Al Qur’an. Sebagai perpisahan, saya hanya kembangkan senyum saat itu. Kalau saya tidak ikut rombongan, mungkin saja saya sudah ikut dengannya ke mesir dengan menggunakan kereta api.

Setelah perkenalan itu, saya baru tersadar bahwa Alloh telah berfirman manusia dijadikan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dan Alloh yang mengumpulkan agar manusia bersyukur.

Setelah perkenalan itu, saya berjalan sekeliling masjid dan menjumpai orang tua yang sedang duduk-duduk di pelataran masjid. Saya ucapkan salam dan mengajaknya berbincang-bincang. Saya dapati bahwa ia berasal dari Pakistan, dan sudah hampir seminggu berada di Madinah. Ia adalah seorang pensiunan tentara angkatan laut. Sebelumnya saya tidak mengerti tentang pekerjaannya, tetapi ketika dia mengatakan navi force, sontak saja saya mengerti karena itu adalah angkatan laut AS. Banyak sekali petuah yang aku dapatkan, aku mengerti bahwa ia seorang tasawwuf yang sangat tawadu’ dalam beribadah. Dia mengajarkan tentang prinsip keseimbangan antara akal dan perut, dia mengajarkan untuk selalu berdzikir kepada Alloh. Petuah itu berharga untukku, terkadang lupa meluangkan waktu untuk berdzikir karena aktifitas yang tidak berguna. Sebagai salam perpisahan, saya diberikan sebuah pena olehnya, tak lupa saya mengajaknya untuk berkunjung ke Indonesia.

Pena ini, akan saya simpan sebagaimana petuah-petuah yang telah diberikan. Begitu baiknya bapak ini ungkapku dalam hati, dia juga bercerita tentang anak perempuannya yang saat ini bekerja di Inggris.
Berkumpul menjadi satu agar engkau bersyukur, itu yang diungkapkan oleh Alloh. Ternyata saya tidak sendiri, ada juga kenalanku dari Iran, AS, Malaysia, Iraq, Belgia, dll. Tapi dari semuanya yang paling berkesan adalah kedua orang tadi. Semoga Alloh mempertemukan kita kembali. Aamiin.

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s