Kenangan : karakter orang Arab yang keras

Setidaknya saya menjadi saksi atas keras kepalanya orang arab. Saat itu pukul 10 pagi pada hari jum’at, di Masjid Nabawi, Madinah. Orang sudah menata shaf-shaf untuk melaksanakan sholat jumat. Dagangan2 sekitar Masjid hari itu juga sudah tutup semua. Yang menjadi menarik perhatian saya adalah orang-orang berebutan untuk mendapatkan shaf-shaf awal. Tidak terkecuali bagi yang telat datang juga selalu membidik shaf awal. Jumat itu saya bersyukur bisa berada di shaf awal.


Tak terelakkan lagi, penumpukan massa di baris depan. Duduk saya yang sebelumnya bersila kini hanya bisa duduk seperti tahiyatul awal shalat atau duduk seperti orang Jepang. Bisa dibayangkan 1,5 jam duduk seperti itu dan tidak biasa sebelumnya sehingga saya beberapa kali kram dan kesemutan. Akhirnya sesekali saya rubah posisi duduk saya setiap beberapa menit. Begitu sempitnya, saya sempat berandai kalau jadi keluarga raja pasti saya tidak begini. Tempat keluarga raja sudah dibatasi dengan tali merah, bisa dikatakan saat itu masih kosong melompong. Tetapi itu semua hanya pikiran kosong belaka. Entah keluarga raja atau rakyat biasa toh di hadapan Alloh sama.
Yah, setelah 1,5 jam menunggu akhirnya dikumandangkan adzan. Saya saat itu sibuk mencari dimana tempat sang muadzin. Ternyata letaknya di belakang dan berada di lantai dua, tepat dekat dengan mimbar Rasulullah. Saat itu banyak yang merekam, sayangnya saya tidak membawa kamera.
Tidak berselang lama khatib naik ke mimbar dan kumandang adzan yang kedua kalinya. Saya tidak mengetahui apa yang disampaikan oleh khatib karena menggunakan bahasa arab. Alhasil sepanjang khutbah yang ada hanyalah mengantuk. Ini salah satu hal negatif yang aku dapatkan. Tetapi sepulang jumatan aku sempat berfikir, bagaiamana kalau di Masjid ini diadakan perangkat IT untuk penerjemah bahasa. Mungkin terlalu jauh untuk itu.

=====iqomat=====
Mulai merapikan shaf kembali, dudukku yang menghadap ke belakang aku ubah menjadi hadap kiblat. Sang khatib pun bergegas ke tempat imam untuk memimpin shalat. Saat orang siap-siap untuk shalat, ada seorang paruh baya yang sibuk mencari shaf. Alhasil, seorang pria tersebut tidak kebagian shaf dan terkesan mengganggu orang shalat. Saya mengetahuinya karena dia tepat 3 orang dari sebelah kiri saya. Sebelumnya, ia berbantah-bantahan dengan orang sebelahnya, tetapi karena postur tubuhnya lebih kecil maka ia kalah. Saya tidak tahu apa yang dibantahkan, karena menggunakan bahasa arab sepertinya. Seorang tua tersebut tidak memiliki shaf dan tidak juga keluar dari masjid. Kalaupun ia mengalah pasti di halaman masjid ia bisa shalat. Tetapi yang ada adalah ia tetap berada di dalam sampai akhir shalat.
Setelah shalat berakhir, seorang yang berada di belakangnya teriak marah-marah dan menbuat kegaduhan sekelilingnya. Dan yang lebih menyedihkan, seorang tua tersebut dimarah oleh laskar yang menjaga saat shalat, sempat berdebat kusir yang tak kunjung-kunjung selesai. Akhirnya orang tua tersebut digiring oleh 3 orang polisi yang mengamankan Masjid Nabawi. Mungkin saja dia terkena sangsi atau dam, saya tidak tahu pastinya. Sebuah pelajaran bagi saya karena di dalam Al Qur’an disebutkan karakter orang arab yang keras dan jahiliah, maka dari itu alasannya risalah kerasulan turun di Bangsa Arab.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Semoga kita selalu bertambah brrsyukur dan menjadi orang-orang yang berserah diri. Aamiin

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s