Negara Komunitas, Komunal, dan Mufakat

Saya mengangkat kembali bahasan mengenai negara komunitas. Ini mungkin akan menjadi perbincangan sengit antara komunitas-komunitas tertentu. Karena mereka hanya menumpang atas nama “Negara Kesatuan Republik Indonesia” tetapi sejatinya mereka tidak ada perasaan yang mendalam terhadap NKRI, mereka lebih mengutamakan komunitasnya sendiri. Hal ini merupakan suatu dilema yang harus dihadapi oleh negara, gerakan-gerakan bayangan untuk menguasai negara senantiasa ditanamkan sejak dini melalui tulisan-tulisan sosialisme.
Pendapat saya terkait politik komunitas adalah memberikan keadaan yang kotak-kotak pada negara sehingga haruslah diperkuat pada pondasi awal. Sebagai langkah awal adalah pengenalan dan penanaman nilai empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Penanaman kembali tersebut memberikan dampak positif agar hal-hal yang urgent tidak terpecah belah. Negara sekuat apapun apabila rakyatnya terpecah belah maka asing cepat masuk mengintervensi terhadap negara tersebut.
Pemahaman empat pilar kebangsaan ssenantiasa dibuat untuk menciptakan persatuan pada negara Indonesia. Mengembalikan karakteristik komunal yang ada pada bangsa sehingga tidak dapat dipengaruhi begitu saja oleh negara lain. Kalaupun dipengaruhi maka konsekuensinya lebih kecil dibandingkan tanpa pengamalan empat pilar kebangsaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh globalisasi yang begitu cepat bisa merubah paradigma para penerus bangsa. Menggalakkan kembali atau benar-benar kehilangan jati diri sebagai bangsa.
Continue reading “Negara Komunitas, Komunal, dan Mufakat”